Bank Jago-Bibit-Stockbit Catat 3,6 Juta Nasabah

Andi B. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Bank Jago-Bibit-Stockbit Catat 3,6 Juta Nasabah

Gambar atau konten salah?

PT Bank Jago Tbk, PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), dan PT Stockbit Sekuritas Digital (Stockbit) mencatatkan 3,6 juta nasabah per Juli 2026 yang terintegrasi dalam satu platform investasi. Angka ini menunjukkan bagaimana ketiga perusahaan menyatukan layanan perbankan digital dengan investasi.

Kerja sama ini sudah berjalan sejak 2021. Tujuannya sederhana: memberi nasabah akses investasi langsung dari aplikasi bank digital.

Head of Wealth Management Bank Jago, Nyoman Sukmawati, menjelaskan lebih detail. Dari total 3,6 juta nasabah terintegrasi, hampir 2 juta di antaranya adalah pemilik rekening dana nasabah (RDN) Bank Jago yang terhubung dengan Bibit dan Stockbit.

"Kami benar-benar membuat integrasinya sangat menyeluruh, end-to-end. Membuat lebih simpel dan lebih mudah bagi nasabah, dimulai dari onboarding-nya. Jadi, onboarding dalam hal ini bagaimana nasabah Bibit dengan mudah memiliki aplikasi Jago dan sebaliknya," kata Nyoman dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Integrasi itu bukan sekadar teknis. Nyoman menekankan bahwa kemudahan dari awal pendaftaran hingga transaksi menjadi kunci. Nasabah tidak perlu bolak-balik aplikasi.

Dari sisi portofolio, Nyoman membeberkan data per Juli 2026. Investasi nasabah Bank Jago yang dikelola lewat Bibit dan Stockbit terbagi dalam tiga instrumen utama. Saham mendominasi dengan 48,4%, disusul reksa dana sebesar 38,6%, dan obligasi 13%.

Namun, jika dilihat dari frekuensi transaksi, ceritanya berbeda. 88% transaksi terjadi di saham. Reksa dana hanya 11,9%, dan sisanya obligasi. Artinya, meski nilai portofolio saham dan reksa dana tidak terlalu jauh, nasabah jauh lebih aktif bertransaksi saham.

"Dengan perkembangan ini, kami juga sangat optimistis melihat pertumbuhannya. Semakin banyak nanti nasabah yang juga akan mulai mencoba melihat diversifikasi investasinya ke produk seperti ini," tambah Nyoman.

Ke depan, Bank Jago punya rencana baru. Mereka sedang menjajaki fitur investasi emas digital. Tapi Nyoman menegaskan, peluncuran produk baru tidak bisa terburu-buru.

"Kami sedang dalam penjajakan (tabungan emas). Kami sebagai bank tentunya juga menerapkan proses kehati-hatian dalam kajian, dalam assessment kami. Jadi, nanti begitu proses itu semua sudah dirasa cukup matang, sudah juga mendapatkan persetujuan dari pihak regulator dalam hal produk baru, tentunya akan segera kami rilis," ungkapnya.

Sementara itu, Head of PR & Corporate Communication Bibit & Stockbit, William, memberikan gambaran lebih luas. Bibit dan Stockbit saat ini telah menghimpun lebih dari 10 juta pengguna. Hampir 90% dari mereka adalah generasi milenial dan Z.

Angka itu menunjukkan satu hal: platform investasi digital memang digandrungi usia produktif. Tapi William juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri.

"Jadi, tentu multifaktor. Kami menyadari bahwa layanan investasi yang aman, mudah, simpel, seamless itu juga ditopang oleh keadaan perekonomian. Ketika misalnya banyak IPO-nya, atau ekonomi sedang baik-baiknya, tentu dilihat di pasar modal akan lebih kelihatan dibandingkan kalau (ekonomi) lagi lesu," kata William.

Kolaborasi Bank Jago, Bibit, dan Stockbit ini pada dasarnya mencerminkan tren perbankan digital yang tidak hanya menjadi tempat menyimpan uang, tetapi juga pintu masuk ke pasar modal. Dengan 3,6 juta nasabah terintegrasi dan hampir 2 juta RDN aktif, model integrasi semacam ini tampaknya mulai menemukan pasarnya. Namun, rencana Bank Jago menghadirkan emas digital masih menunggu kajian dan restu regulator.

Bank JagoBibitStockbitintegrasiinvestasinasabahsaham

Komentar

Memuat komentar...