Bank Mega Naik 28% Laba Bersih, Peringkat 10 Industri
Gambar atau konten salah?
28% peningkatan laba bersih PT Bank Mega Tbk pada tahun 2025 menghasilkan Rp 3,36 triliun. Kenaikan ini didukung oleh 54% peningkatan Fee Based Income menjadi Rp 2,79 triliun.
Direktur Utama Bank Mega, Kostaman Thayib, menyatakan capaian tersebut menempatkan Bank Mega di urutan ke‑10 di industri perbankan RI berdasarkan pendapatan laba.
Total aset perusahaan naik 4% dari Rp 135 triliun menjadi Rp 141 triliun. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diadakan di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, pada Selasa, 31 Juni 2026, Kostaman mengungkapkan posisi aset dan profit after tax (PAT) bank.
"Total aset meningkat sekitar 4% dari Rp 135 triliun menjadi Rp 141 triliun rupiah. Kalau kita lihat posisi Bank Mega, dari sisi aset Bank Mega ada di posisi nomor 19. Tapi, kalau dari sisi profit after tax (PAT), Bank Mega berada di posisi nomor 10 dari seluruh bank yang ada di Indonesia. Total kredit meningkat juga sekitar 4% dari Rp 65 triliun menjadi Rp 67 triliun,"
RUPST menyoroti fokus Bank Mega pada penyaluran kredit korporasi. Total kredit yang disalurkan tumbuh 4% menjadi Rp 67,23 triliun. Rasio kredit macet (NPL) membaik menjadi 1,65% pada 2025 dibandingkan 1,69% tahun sebelumnya.
Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan pertumbuhan 14% menjadi Rp 104,13 triliun. Komposisi DPK masih didominasi oleh deposito, namun saldo CASA meningkat 2% menjadi Rp 28,14 triliun.
"Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan pertumbuhan sebesar 14% menjadi Rp 104,13 triliun. Komposisi DPK masih didominasi oleh deposito, namun saldo CASA meningkat sebesar 2% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp 28,14 triliun,"
Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 30,49%. Kebijakan perseroan untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) di kisaran 70%. Rasio keuangan lainnya menunjukkan kinerja solid: Return on Assets (ROA) 3,10%, Return on Equity (ROE) 15,54%, Net Interest Margin (NIM) 4,18%, dan rasio efisiensi BOPO 69,12%.
Strategi Bank Mega untuk tahun 2026 difokuskan pada stabilitas likuiditas dan pertumbuhan dana murah (low cost funding). Langkah pertama adalah meningkatkan transaksi banking dan membangun ekosistem nasabah. Langkah kedua adalah memperbesar volume kredit wholesale melalui bilateral dan sindikasi, serta mendorong transaksi banking nasabah kredit.
"Strategi Bank Mega di 2026 adalah menjaga stabilitas likuiditas dengan mendorong pertumbuhan dana murah atau low cost funding. Pertama, peningkatan transaksional banking dan menggarap ekosistem nasabah. Kedua, peningkatan volume kredit wholesale melalui bilateral dan sindikasi, serta mendorong peningkatan transaksi banking nasabah kredit,"
Bank Mega menunjukkan pertumbuhan yang kuat, menempati posisi ke‑10 dalam profit di industri perbankan Indonesia, dengan aset dan kredit yang stabil serta fokus pada likuiditas dan dana murah untuk ekspansi di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
