Bank Mega Syariah Luncurkan Flexi Gold: Kredit Logam Mulia
Gambar atau konten salah?
Emas telah lama menjadi instrumen investasi yang dicari ketika ekonomi bergejolak. Di tengah ketidakpastian global, logam mulia tidak hanya berfungsi sebagai aset defensif, tetapi juga menjaga nilai kekayaan bagi para investor.
Benadicto Alvonzo Ferary, kepala Divisi Digital Business & Product Management Bank Mega Syariah, menegaskan bahwa profil emas telah berubah. Menurutnya, emas kini lebih kuat sebagai lindung nilai inflasi dan ketidakstabilan ekonomi.
"Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas semakin dipandang sebagai alat proteksi nilai. Kami melihat adanya pergeseran perilaku investor, di mana emas kini menjadi instrumen utama dalam strategi investasi jangka panjang, bukan sekadar pelengkap," (Benadicto, 24 April 2026).
Bank Mega Syariah merespons perubahan perilaku ini dengan meluncurkan Flexi Gold, produk pembiayaan emas yang dirancang fleksibel dan terjangkau. Nasabah dapat membeli logam mulia 24 karat secara bertahap, dengan tenor 1–5 tahun dan gramasi 5–100 gram.
Flexi Gold disusun sesuai prinsip syariah dan mendapat persetujuan Dewan Pengawas Syariah. Produk ini mengacu pada fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang jual beli emas, pembiayaan berbasis rahn, dan akad murabahah.
Bank Mega Syariah optimistis bahwa tren investasi emas akan terus bertambah. Menurut Benadicto, Melalui Flexi Gold, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki emas secara bertahap. Dengan cicilan yang ringan dan terjangkau, nasabah dapat membangun portofolio investasi jangka panjang secara disiplin sekaligus memanfaatkan momentum penguatan harga emas, (Benadicto).
Kinerja Flexi Gold menunjukkan pertumbuhan positif di tiga bulan pertama 2026. Hingga Maret 2026, penyaluran produk meningkat lebih dari 756% dibandingkan posisi Desember 2025.
Minat nasabah tinggi di wilayah Jabodetabek dan kota-kota besar di Pulau Jawa serta Sumatera. Jakarta memimpin pasar dengan 41,79% dari total nilai booking nasional, diikuti Tangerang 14,08% dan Palembang 7,15%.
Secara global, permintaan emas tetap kuat. World Gold Council mencatat pembelian emas oleh bank sentral dunia menembus lebih dari 1.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir, salah satu level tertinggi dalam sejarah.
Di dalam negeri, tren serupa terlihat melalui survei. Survei Jakpat bertajuk Indonesia Investment Trends 2025 melaporkan bahwa instrumen berbasis emas dan aset fisik menjadi pilihan utama masyarakat pada 2025. Perhiasan dipilih 67% responden, logam mulia 66%, dan properti 63%.
Survei Populix Januari 2026 menegaskan emas sebagai instrumen paling dominan dengan tingkat kepercayaan 80%. Angka ini jauh melampaui uang tunai 7%, properti 6%, saham 3%, obligasi 2%, kripto dan valuta asing masing-masing 1%.
Dengan data tersebut, Bank Mega Syariah menegaskan bahwa fleksibilitas pembiayaan emas dapat membantu masyarakat mengamankan nilai aset di tengah volatilitas pasar. Flexi Gold menjadi contoh bagaimana produk syariah dapat menyesuaikan kebutuhan investor modern.
Emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang menginginkan perlindungan nilai. Produk pembiayaan fleksibel seperti Flexi Gold memungkinkan akses bertahap, memanfaatkan tren global dan domestik yang kuat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz