Batagor Jadi Gorengan Terenak Teratas Asia Tenggara

Dedi S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Batagor Jadi Gorengan Terenak Teratas Asia Tenggara

Gambar atau konten salah?

Batagor, jajanan khas Bandung yang terbuat dari bakso tahu goreng, baru saja menjadi sorotan internasional. Pada 16 Mei 2026, situs kuliner TasteAtlas mengumumkan bahwa batagor memperoleh rating 4,4 dan menempati posisi pertama dalam daftar gorengan terenak di Asia Tenggara.

Penilaian tersebut didasarkan pada lebih dari 2.900 ulasan pengguna dari berbagai negara. Dari jumlah itu, 2.003 ulasan dinyatakan valid oleh sistem TasteAtlas. Batagor mendapat pujian karena rasa gurihnya, yang berasal dari adonan ikan yang disajikan bersama saus kacang khas.

Daftar TasteAtlas tidak hanya menampilkan batagor. Lima besar gorengan terenak di Asia Tenggara menurut situs tersebut adalah:

  1. Batagor (Indonesia)
  2. Karipap (Malaysia)
  3. Lumpiang Shanghai (Filipina)
  4. Ayam Goreng (Indonesia)
  5. Pempek (Indonesia)

Batagor, ayam goreng, dan pempek mendominasi daftar ini, menandai keunggulan kuliner gorengan Indonesia di mata dunia.

Batagor sendiri merupakan singkatan dari “Bakso Tahu Goreng”. Khas Sunda ini dibuat dengan adonan ikan, biasanya ikan tenggiri, yang dicampur tepung tapioka lalu dimasukkan ke dalam tahu atau kulit pangsit. Setelah digoreng hingga renyah, batagor disajikan dengan siraman bumbu kacang, kecap manis, saus sambal, dan perasan jeruk limau. Kombinasi rasa ini membuat batagor terasa segar dan gurih sekaligus.

Awalnya, batagor dijual oleh pedagang keliling menggunakan gerobak di pinggir jalan. Kini, jajanan ini dapat ditemukan di restoran hingga pusat kuliner modern. Meski mirip siomay karena menggunakan adonan yang sama, perbedaan utama terletak pada proses memasak: siomay dikukus, sedangkan batagor digoreng hingga garing, menghasilkan tekstur lebih renyah.

Sejarah batagor bermula di Bandung pada akhir 1960‑an. Beberapa narasumber mengatakan bahwa batagor dipengaruhi oleh tradisi kuliner Tionghoa yang berkembang di Jawa Barat, terutama penggunaan adonan ikan yang dipadukan dengan tahu dan kulit pangsit. Namun, kisah paling terkenal menyebut bahwa batagor pertama kali diciptakan oleh H. Isan, perantau asal Purwokerto yang menetap di Bandung. Ia menciptakan batagor pada sekitar tahun 1970‑an dengan mengolah sisa bakso dan tahu kukus yang tidak terjual. H. Isan menggoreng bakso tahu tersebut lalu menyajikannya dengan bumbu kacang racikannya sendiri. Saat dibagikan kepada tetangga, olahan baru itu mendapat respons positif karena rasanya gurih dan lezat.

Sejak itu, batagor berkembang menjadi jajanan khas Bandung yang paling populer. Beberapa nama legendaris di kota ini, seperti Batagor Kingsley, Batagor Riri, Batagor Burangrang, dan Batagor Hj. Darto, sering menjadi tujuan wisata kuliner bagi pengunjung yang ingin mencicipi batagor dengan cita rasa khas kota tersebut.

Untuk yang ingin mencoba batagor paling legendaris, Batagor H. Isan Bojongloa sudah berjualan sejak 1968. Kedai ini tidak pernah sepi pengunjung, dengan kisaran harga Rp 5.000 per biji. Sementara itu, batagor kelas premium, seperti Batagor Kingsley, masih menjadi incaran para wisatawan dari berbagai daerah. Meskipun harganya cukup tinggi, yakni Rp 40.000 per porsi, batagor ini tetap laris manis sampai sekarang.

Keberhasilan batagor diakui secara internasional, namun tidak berarti batagor menjadi makanan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Sebaliknya, pengakuan ini menegaskan bahwa batagor telah lama menjadi bagian penting dari budaya kuliner Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat. Rasa gurih, tekstur renyah, dan kombinasi bumbu yang unik membuat batagor tetap relevan di mata penikmat makanan di seluruh dunia.

Dengan rating tinggi dan popularitas yang terus bertambah, batagor kini menjadi contoh bagaimana jajanan tradisional dapat bersaing di panggung kuliner global. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa kuliner Indonesia memiliki potensi besar untuk dipromosikan di tingkat internasional.

BatagorTasteAtlasBandungGorenganKuliner IndonesiaBumbu KacangRating 4,4

Komentar

Memuat komentar...