Batu Yoni di Dusun Babadan Jadi Artefak Sejarah Baru
Gambar atau konten salah?
Batu Yoni ditemukan di lahan pertanian Dusun Babadan, Desa Duwet, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Benda ini awalnya dianggap batu lumpang biasa, namun kini telah diakui sebagai artefak bersejarah.
Temuan terjadi di tanah milik warga bernama Qomaruddin. Walaupun sudah lama diketahui, hanya baru tiga bulan lalu pihak terkait memeriksa dan mengidentifikasi nilai sejarahnya.
Ketua Lembaga Adat Desa Duwet, Candra David Pratama, menjelaskan bahwa pemilik lahan semula tidak menyadari nilai historis benda tersebut. Batu itu biasa ditemukan di sawah, sehingga tidak menarik perhatian.
“Awalnya dikira batu biasa. Setelah kami cek langsung di lokasi, bentuknya mengarah ke yoni, salah satu peninggalan budaya masa lampau. Karena itu, kami berinisiatif untuk mengamankannya,” kata Candra, Jumat (24/4/2025).
Posisi artefak berada di tengah lahan pertanian jagung, menghambat aktivitas bercocok tanam. Warga dan lembaga adat sepakat memindahkan batu setelah masa panen selesai.
Evakuasi dilakukan secara gotong royong, melibatkan perangkat desa, kepala dusun, dan komunitas pemerhati sejarah setempat. Proses ini menandai kerja sama antara masyarakat dan lembaga adat.
Dari pemeriksaan awal, kondisi Batu Yoni tidak sempurna. Bagian pancuran air dan bagian atasnya patah, serta beberapa fragmen hilang. Tidak ditemukan potongan tambahan di sekitar lokasi.
Sejauh ini, artefak disimpan sementara di rumah Mbah Sumali, yang juga pernah menjadi tempat penyimpanan temuan serupa di wilayah tersebut.
Candra menyebut penemuan ini bukan yang pertama di Desa Duwet. Sebelumnya, setidaknya lima artefak lain ditemukan di kawasan yang sama, menandakan adanya potensi situs sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.
Melihat potensi tersebut, pihak desa berinisiatif mendorong pembangunan museum mini sebagai sarana edukasi sekaligus pelestarian sejarah lokal. Rencana ini telah dikoordinasikan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
Penemuan Batu Yoni ini menambah pemahaman tentang kebudayaan masa lampau di wilayah Kediri. Upaya pelestarian melalui museum mini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai sejarah lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai
