Bawang Goreng UliMus Jadi UMKM Global lewat Digital

Wulan M. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 122 dibaca
Bisik.id
Bawang Goreng UliMus Jadi UMKM Global lewat Digital

Gambar atau konten salah?

Di sebuah rumah di Sumatera, seorang ibu bernama Romauli Sri Astuti Sitoris menemukan peluang bisnis dari sesuatu yang sederhana: bawang goreng. Pada 01 Januari 2022, ia meluncurkan usaha bernama UliMus, yang dinamai gabungan nama dirinya dan suaminya, Mustofa. Ide awalnya datang dari anaknya, Uli, yang tidak menyukai bawang goreng. Uli mengolahnya menjadi camilan crispy, bukan sekadar pelengkap makanan.

Inovasi kecil itu menjadi bekal rutin anak saat menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Parung pada awal 01 Januari 2020. Uli membawa bawang goreng ke pesantren setiap bulan, dan teman-teman di sana pun mulai menyukainya. “Alhamdulillah anak jadi suka. Tiap bulan saya ke pesantren bawa bawang goreng rasa barberque rasa balado. Teman-temannya juga pada suka, jadi pada beli,” katanya kepada sebuah portal bisnis.

Keberhasilan itu membuka pintu rezeki bagi Uli. Setiap kunjungan ke pesantren, ia membawa stok bawang goreng yang kemudian dititipkan pada anaknya. “Setiap bulan saya ke situ, ngunjungin anak, dapat cuan. Karena anaknya ikut jualin juga di situ,” jelas Uli.

Modal awalnya sangat terbatas, kurang dari Rp 500 ribu. Pada 01 Januari 2020, suaminya mengalami kebangkrutan akibat pandemi. Uli memutuskan untuk serius berjualan bawang goreng. “Tahun 2020 suami saya usahanya bangkrut. (Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari) dia menyarankan, jual bawang goreng aja, kan banyak yang suka. Akhirnya kami putuskan untuk serius berjualan,” ungkapnya.

Usaha kecil di rumah berkembang hingga resmi memiliki legalitas pada 01 Januari 2022. Produk bawang goreng UliMus dapat dijadikan camilan maupun taburan makanan. Sejak itu, penjualan mulai meningkat secara signifikan.

Uli, yang hanya memiliki latar belakang Diploma 3 keperawatan, memutuskan untuk mengikuti pelatihan UMKM pada 01 Januari 2023. Ia bergabung dengan sebuah komunitas UMKM yang menyediakan pembinaan. “Waktu itu pertama kali saya ke Rumah BUMN BRI diajak teman, katanya ada pelatihan pemasaran digital. Saya ikut,” ia mengingat.

Pelatihan tersebut mengubah pola pikirnya. Sebelumnya ia hanya berpikir asal jualan; kini ia memikirkan strategi pemasaran, pencatatan keuangan, dan digitalisasi. “Banyak perubahan yang harus saya ikutin ternyata, terutama digital, pentingnya media sosial untuk jualan,” kata Uli. Ia mulai merapikan profil usaha di media sosial, membuka kanal pesanan melalui WhatsApp Business, dan memanfaatkan e‑commerce.

Hasilnya, omzetnya naik drastis. Dari ratusan ribu rupiah, kini UliMus mencapai omzet Rp 7–10 juta per bulan. Produk bahkan pernah dikirim ke luar Pulau Jawa, seperti ke Kalimantan dan Papua. “Meningkatnya nggak langsung 'buk' gitu, tapi slowly but surely. Perlahan tapi pasti ada peningkatan dari dulu,” ungkapnya.

Produksi saat ini mencapai 100–300 kilogram per bulan. Meskipun masih berskala UMKM, Uli memiliki target produksi satu ton per bulan. “Target sebagai UMKM tentu bisnisnya berkembang konsisten. Mimpi saya omzetnya bisa meningkat jadi Rp 25–100 juta per bulan,” harapannya.

Produk UliMus kini sudah mendapatkan sertifikasi Halal dan BPOM. Uji laboratorium mikroba, gizi, logam, dan kadaluarsa menunjukkan produk dapat bertahan selama 378 hari atau lebih dari 12 bulan. Dengan kualitas tersebut, produk sudah merambah ke pusat perbelanjaan ternama seperti Sarinah, Supermarket Hero, dan beberapa mitra reseller di Jakarta.

Keberhasilan tidak berhenti di dalam negeri. Melalui pemasaran digital, Uli melayani pembeli B2C hingga ke Jepang dan Singapura. “Pembeli terjauh itu dari diaspora di Jepang. Meski ongkos kirimnya mencapai Rp 450 ribu untuk satu kilogram bawang, mereka tetap pesan. Itu jadi kebanggaan tersendiri bagi saya,” tuturnya.

Selain penjualan online, Uli aktif menjemput bola di berbagai pameran dan bazar. Ia mengenang pameran pertamanya di Balai Kota, Jakarta, ketika usaha baru tiga bulan. Di sana, ia berhasil meraih omzet Rp 2 juta hanya dalam empat hari. “Sebuah pencapaian luar biasa baginya saat itu,” ia teringat.

Menurutnya, program pembinaan di Rumah BUMN BRI telah menjadi modal penting bagi usahanya. “Rumah BUMN BRI telah menjadi wadah luar biasa bagi saya untuk 'kuliah' lagi, mengubah pola pikir, dan memberikan dukungan nyata agar UMKM seperti saya bisa naik kelas,” jelasnya.

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, menegaskan bahwa lembaga tersebut hadir sebagai wadah bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang. Ia menyatakan komitmen memberikan pembinaan gratis. “Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas,” jelasnya.

Proses pembinaan dimulai dengan mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya menjadi semacam rapor awal, memetakan tiga aspek terunggul dan tiga aspek terendah. “Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya,” terangnya.

Hingga 01 Januari 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan. Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. “Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi,” jelas Rohmana.

UliMus tetap berfokus pada peningkatan kualitas dan distribusi. Dengan sertifikasi dan jangkauan pasar yang luas, produk bawang gorengnya telah menjadi contoh bagaimana usaha kecil dapat tumbuh menjadi bisnis yang berkelanjutan. Di balik kesuksesan ini, pelatihan, digitalisasi, dan dukungan komunitas menjadi faktor kunci. Sebuah perjalanan sederhana di rumah Sumatera kini menjadi inspirasi bagi banyak UMKM yang ingin naik kelas.

UliMusBawang gorengUMKMDigitalisasiRumah BUMN BRIEksporSertifikasi HalalPemasaran digital

Komentar

Memuat komentar...