BBCA Turun 5,84% ke Rp 6.050, Titik Terendah Sejak 2021

Putri N. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 106 dibaca
Bisik.id
BBCA Turun 5,84% ke Rp 6.050, Titik Terendah Sejak 2021

Gambar atau konten salah?

BBCA turun 5,84 % menutup pekan lalu di level Rp 6.050, titik terendah sejak 2021. Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang lebih luas, bukan masalah internal.

Dalam satu hari, net foreign sell (NFS) pada saham BBCA mencapai Rp 2,1 triliun. Meskipun volume keluar tersebut tinggi, analis menilai kondisi internal perusahaan masih sehat. Penurunan harga saham dianggap murni akibat faktor eksternal dan ketidakpastian makro ekonomi.

Jonathan Gunawan, analis di Trimegah Sekuritas, menyatakan bahwa tekanan tidak hanya menimpa BBCA. Ia mencontohkan bank besar lainnya: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,81 % ke level Rp 4.500 dengan NFS Rp 655 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,85 % menjadi Rp 3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

Menurut Jonathan, investor asing sedang menyesuaikan portofolio mereka terhadap risiko makro di Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ia menambahkan, “Bank itu ibarat jantung yang memompa aliran darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA.

Pernyataan tersebut diucapkan pada Senin, 27 April 2026.

Jonathan menyoroti konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai pemicu utama. Konflik ini belum menunjukkan tanda mereda, sehingga harga energi tetap tinggi dan ekspektasi pertumbuhan global menurun. Ia menambahkan, “Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya bagi banyak perusahaan. Dampaknya, pertumbuhan laba emiten secara umum berpotensi melambat.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga timbul dari perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global dan review MSCI terhadap pasar saham domestik. Kombinasi faktor ini membuat aliran dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi fundamental, BBCA tetap solid. Perusahaan berupaya menjaga daya tarik bagi investor dengan kebijakan pembagian dividen interim sebanyak tiga kali dalam setahun. Pada kuartal I tahun 2026, BBCA mencatat laba bersih Rp 14,7 triliun, tumbuh 4 % secara tahunan. Riset terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan pencapaian laba ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan konsensus tahunan.

Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dari BRI Danareksa Sekuritas menegaskan, “Laba BBCA tetap in-line dengan ekspektasi, dengan pendapatan non‑bunga yang kuat mampu mengimbangi tekanan pada NIM.” Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6 % secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi penopang utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menjadi tantangan, terutama pada pembiayaan kendaraan. Analis juga mencermati indikator risiko secara kuartalan, khususnya pada segmen di luar korporasi. Namun secara tahunan, kualitas aset masih menunjukkan perbaikan, mencerminkan ketahanan portofolio BBCA di tengah kondisi ekonomi yang menantang.”

BBCA mempertahankan panduan kinerja 2026, termasuk target pertumbuhan kredit 8‑10 % dan NIM di kisaran 5,4‑5,6 %. BRIDS tetap merekomendasikan beli dengan target harga Rp 10.900, yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari harga terakhir. Menurut BRIDS, valuasi BBCA saat ini sudah berada di bawah rata‑rata historis dan mendekati kisaran deviasi bawah dalam beberapa tahun terakhir. “Valuasi saat ini mencerminkan tekanan pasar dan sudah berada di level yang relatif menarik, dengan downside yang dinilai terbatas.

Walaupun tekanan pasar bersifat sektoral dan dipengaruhi oleh faktor eksternal, fundamental BBCA tetap kuat. Laba bersih yang stabil, kredit yang tumbuh, dan kebijakan dividen yang menarik memberikan landasan bagi investor. Valuasi yang masih di bawah rata‑rata historis menandakan adanya ruang bagi harga saham untuk bergerak naik, meski tetap harus memperhatikan risiko makro dan geopolitik yang berkelanjutan.

BBCApenurunan harga sahamnet foreign selltekanan pasarfaktor geopolitikpertumbuhan kreditdividen

Komentar

Memuat komentar...