BBRI Turun 1,63%: Hery Tawarkan Investasi Blue Chip
Gambar atau konten salah?
Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), mengingatkan para investor saham pada hari Kamis, 30 April 2026, bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang mengalami koreksi sebesar 1,72% hingga 6.976,84. Sektor finansial menjadi kontributor utama bagi penurunan ini. Saham BBRI sendiri turun 1,63% dan berada di level Rp 3.020 per lembar.
“Belilah saham-saham yang blue chip, yang fundamentalnya bagus seperti BBRI. Maksudnya apa? Anda nggak usah terlalu lihat, karena kita, seperti saya, adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin tekanan darah naik juga, stresnya naik. Karena investasi itu mesti sesuai dengan objektifnya kita,” ujar Hery dalam konferensi pers virtual.
Hery menekankan bahwa investasi pada saham blue chip memiliki fundamental kuat. Meski harga saham mengalami tekanan, saham-saham tersebut tetap memberikan dividen tahunan. Ia mencontohkan BBRI yang, meski harga sahamnya turun lebih dari 17% sepanjang tahun 2026, masih membagikan dividen lebih tinggi dibandingkan instrumen lain seperti deposito atau reksa dana.
“Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16%, nggak usah dilihat itu, lihat dividend ratio-nya, dan dividen kita kan cukup bagus, paling tidak bisa memberikan antara 10-11% return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito aja mungkin hanya 7%. Kemudian reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6%,” jelasnya.
Ia percaya bahwa saham blue chip tidak akan terpengaruh secara signifikan oleh tekanan harga. Jika kondisi makroekonomi membaik dan minat investor kembali, kinerja saham kategori ini diyakini akan ikut meningkat.
“Jadi, itu tipsnya, silakan. Kalau mau berinvestasi jangan lupa, pilih yang blue chip, jangan pilih saham yang tidak blue chip,” pungkasnya.
Kesimpulannya, Hery menegaskan bahwa bagi investor jangka panjang, memilih saham blue chip seperti BBRI dapat mengurangi stres akibat fluktuasi harga dan memberikan hasil dividen yang lebih stabil dibandingkan instrumen pasif. Dengan demikian, strategi investasi yang berfokus pada fundamental kuat tetap relevan meski pasar sedang turun.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pinjol Tembus Rp 106 Triliun, Kredit Macet 5,36%
Investor Pasar Modal Tembus 33,55 Juta di Oktober 2026
26 Perusahaan Antre IPO, Target Dana Rp24 Triliun
OJK Desak MNC Bank Segera Selesaikan Keluhan Nasabah
IHSG Ditutup Hijau di 5.030, Naik 2,25 Persen
Aset Asuransi Tembus Rp1.192 Triliun per September 2026
