BCA Tunggu Kepastian Gubernur BI Baru
Gambar atau konten salah?
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih menunggu kepastian siapa yang akan menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) berikutnya. Saat ini, posisi pimpinan tertinggi bank sentral masih diisi oleh pejabat sementara.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, angkat bicara soal hal ini. Ia menyampaikan harapan untuk calon Gubernur BI yang akan datang. "Ya kita tunggu kabar berikutnya. Pesan untuk calon-calon ya tentu selalu semangat untuk membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia supaya lebih baik lagi," ujar Hendra dalam konferensi pers virtual pada Selasa, 28 Juli 2026.
Di kesempatan yang sama, Hera F. Haryn, yang menjabat sebagai Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, menyatakan keyakinannya. Ia percaya sosok Gubernur BI yang baru nanti akan mampu mengelola otoritas moneter dengan baik. Hera juga optimistis pengganti Perry Warjiyo bisa mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. "Kami berharap tetap memberikan semangat beliau untuk terus bersama-sama menumbuhkan perekonomian nasional, jadi bersama-sama," ungkapnya.
Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI. Pengunduran diri ini disebut dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi. Perry resmi mundur pada 25 Juli 2026. Setelah itu, posisi Gubernur BI untuk sementara diisi oleh Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Senior Gubernur BI. Destry akan menjabat sebagai pejabat sementara sampai Gubernur BI definitif ditetapkan.
"Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi pada tanggal 25 Juli 2026," kata Destry dalam konferensi pers di kantor BI, Jakarta Pusat, pada Senin, 27 Juli 2026.
Perubahan pucuk pimpinan di BI ini terjadi di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi. BCA, sebagai salah satu bank swasta terbesar, tentu berkepentingan terhadap arah kebijakan moneter ke depan. Harapan dari kalangan perbankan adalah agar Gubernur BI yang baru dapat bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
