BEI Tambah Dua Saham ke Daftar Konsentrasi Tinggi

Andi B. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BEI Tambah Dua Saham ke Daftar Konsentrasi Tinggi

Gambar atau konten salah?

Bursa Efek Indonesia (BEI) baru saja mengumumkan dua saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). Kategori ini menandakan bahwa kepemilikan saham perusahaan tersebut sangat terkonsentrasi pada sekelompok pihak tertentu. Dua saham yang dimaksud adalah PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) dan PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR).

Berdasarkan pengumuman resmi BEI yang dirilis hingga 5 Agustus 2026, saham ALKA dimiliki oleh sejumlah pihak dengan total agregat mencapai 98,21% dari seluruh saham perusahaan, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat. Sementara itu, untuk saham AGAR, angka konsentrasi kepemilikannya bahkan lebih tinggi lagi, yakni 99,32% dari total saham yang beredar.

Meskipun angka-angka itu terlihat sangat dominan, BEI menegaskan bahwa pengumuman kategori HSC ini tidak serta merta berarti kedua emiten tersebut melakukan pelanggaran. Status ini bukanlah indikasi adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang Pasar Modal," tulis Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Yulianto Aji Sadono, dalam keterangan resminya pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Perlu dipahami, konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi sebenarnya adalah fenomena yang cukup umum terjadi di pasar modal. Banyak perusahaan yang memang didirikan atau dikendalikan oleh kelompok pemegang saham tertentu dalam jumlah besar. Namun, BEI secara rutin memantau dan mengumumkan data ini sebagai bentuk transparansi kepada publik dan investor.

Selain ALKA dan AGAR, BEI sebelumnya juga telah mengumumkan puluhan emiten lain yang masuk dalam kategori serupa. Total ada 53 emiten yang tercatat memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi. Daftar lengkapnya mencakup nama-nama perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari energi, properti, perbankan, hingga kesehatan.

Beberapa di antaranya adalah PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), dan PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV). Ada juga PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Daftar itu masih panjang. Termasuk di dalamnya PT Mahkota Group Tbk (MGRO), PT Kota Satu Properti Tbk (SATU), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).

Dari sektor perbankan, ada PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), dan PT Bank Mega Tbk (MEGA). Sektor kesehatan juga tidak ketinggalan, dengan PT Soho Global Health Tbk (SOHO) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) masuk dalam daftar.

Perusahaan-perusahaan lain yang tercatat adalah PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE), PT FAP Agri Tbk (FAPA), PT Siantar Top Tbk (STTP), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY), dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).

Selanjutnya ada PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI), PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Golden Flower Tbk (POLU), PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP).

Dengan bertambahnya ALKA dan AGAR, total emiten dalam kategori HSC kini menjadi 53 perusahaan. BEI terus memantau perkembangan kepemilikan saham ini secara berkala. Investor disarankan untuk selalu memperhatikan data ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi.

Konsentrasi kepemilikan yang tinggi sebenarnya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini menunjukkan adanya pemegang saham pengendali yang kuat dan stabil. Di sisi lain, likuiditas saham di pasar bisa menjadi rendah karena hanya sedikit saham yang beredar bebas di publik. Hal inilah yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.

konsentrasi sahambursa efek indonesiahigh shareholding concentrationALKAAGARBEI

Komentar

Memuat komentar...