BGN: 19 Ribu Sapi Harian untuk MBG, Apakah Kebijakan Benar?

Guntur P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 108 dibaca
Bisik.id
BGN: 19 Ribu Sapi Harian untuk MBG, Apakah Kebijakan Benar?

Gambar atau konten salah?

Dadan Hindayana, kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menegaskan kembali pernyataannya tentang kebutuhan 19 ribu ekor sapi per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan publik dan akademisi.

Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada, Prof. Panjono, menanyakan transparansi distribusi daging sapi. Ia menyatakan, “Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya.”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Dadan menjelaskan bahwa angka tersebut didasarkan pada rasio kebutuhan per unit pelayanan. Ia menyebutnya setelah meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi pada 21 April 2023. “Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” jelas Dadan.

Dadan menambahkan bahwa dalam satu proses masak, satu unit SPPG membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging. Ia berkata, “Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja.”

BGN menegaskan tidak akan menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Strategi ini diambil untuk menjaga stabilitas harga pangan di pasar agar tidak terjadi lonjakan mendadak akibat permintaan yang masif. Dadan mengingat peristiwa perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober, di mana menu telur untuk 36 juta orang sempat memengaruhi harga pasar. “Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ungkapnya.

Oleh karena itu, BGN mengarahkan agar penyusunan menu MBG disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan kearifan lokal di masing-masing daerah. Dadan menegaskan, “Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik.”

Program MBG tetap bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, namun penyesuaian menu berdasarkan kondisi lokal menjadi kunci agar tidak menimbulkan tekanan harga yang tidak perlu.

Dadan HindayanaBadan Gizi NasionalMakan Bergizi Gratis19 ribu sapimenu lokalharga panganSPPGPrabowo Subianto

Komentar

Memuat komentar...