BGN: 19.000 Sapi per Hari Hanya Simulasi, Menu Fleksibel
Gambar atau konten salah?
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa angka 19.000 ekor sapi per hari yang sering disebutkan dalam konteks Makan Bergizi Gratis (MBG) hanyalah simulasi. Ia menegaskan bahwa perhitungan itu didasarkan pada asumsi bahwa semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus memasak menu berbahan daging sapi.
“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” kata Dadan saat meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi pada 21 April 2024.
Ia menambahkan bahwa dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG berkisar antara 350 hingga 382 kilogram. Jumlah tersebut setara dengan daging dari satu ekor sapi. “Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” ujarnya.
Meskipun begitu, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional dalam program MBG. Kebijakan tersebut dihindari untuk mencegah lonjakan kebutuhan bahan pangan yang berpotensi memicu kenaikan harga di pasar.
Ia mencontohkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober 2023. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat. “Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ungkapnya.
Berbagi pelajaran dari kejadian tersebut, BGN kini memilih pendekatan yang lebih fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Menu disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal serta preferensi masyarakat di masing-masing daerah. “Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” tutupnya.
Dengan strategi ini, BGN berharap dapat menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memastikan setiap penerima manfaat tetap mendapatkan makanan bergizi sesuai kebutuhan lokal. Program MBG terus beradaptasi, menyesuaikan menu dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga tidak menimbulkan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
