BI: Pelemahan Rupiah 1,4% Masih Lebih Baik dari Negara Lain
Gambar atau konten salah?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami pelemahan. Namun, Bank Indonesia (BI) menilai kondisi rupiah masih lebih baik jika dibandingkan dengan mata uang beberapa negara lain, seperti Thailand, Filipina, India, hingga Rusia.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, memaparkan data pergerakan mata uang sejak keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni lalu. Menurutnya, sejak keputusan itu diumumkan, mata uang Rusia menjadi yang paling lemah dengan penurunan mencapai 5,5 persen.
"Jadi, kalau kita ambil posisi dari FOMC itu tanggal 17 Juni ya sampai dengan terakhir tanggal 6 Juli. Jadi, 17 Juni sampai dengan 6 Juli itu, kalau kita lihat berdasarkan data di Bloomberg adalah mata uang Rusia paling melemah dibandingkan emerging market. Jadi, Rusia melemah 5,5 persen ya," ujar Ramdan pada Selasa, 07 Juli 2026.
Meskipun FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, pasar justru menangkap sinyal hawkish dari pejabat The Fed. Akibatnya, indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini memberikan tekanan pada berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain Rusia, sejumlah mata uang negara lain juga mengalami pelemahan. Berikut perbandingan pelemahan mata uang terhadap dolar AS sejak 17 Juni hingga 06 Juli:
- Rusia: melemah 5,5 persen
- Chili: melemah 4 persen
- Thailand: melemah 2,3 persen
- Indonesia: melemah 1,4 persen
- Filipina: melemah 1 persen
- Korea Selatan: melemah 1 persen
- India: melemah 0,7 persen
- China: melemah 0,5 persen
"Mata uang India Rupee juga melemah sekitar 0,7 persen. Bahkan, China Renminbi itu melemah 0,5 persen. Jadi, kondisinya seperti itu," tambah Ramdan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI melakukan sejumlah intervensi. Bank sentral tetap berada di pasar selama 24 jam penuh, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, seperti transaksi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga menjalin komunikasi intensif dengan para pelaku pasar.
"(Dalam) 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan bahkan akhir tahun itu kan perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh sebab itu yang saya sampaikan tadi bahwa Bank Indonesia All Out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa Rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat Rupiah itu membangun," jelas Ramdan.
Pelemahan rupiah sebesar 1,4 persen ini masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Rusia mencatat pelemahan paling tajam di antara negara berkembang, yaitu 5,5 persen. Chili menyusul dengan pelemahan 4 persen. Thailand melemah 2,3 persen, sementara Korea Selatan dan Filipina sama-sama melemah 1 persen. India melemah 0,7 persen, dan China melemah 0,5 persen.
Keputusan FOMC pada 17 Juni untuk menahan suku bunga acuan tidak serta merta menenangkan pasar. Sebaliknya, pernyataan pejabat The Fed yang cenderung hawkish justru mendorong indeks dolar AS (DXY) ke titik tertinggi dalam setahun terakhir. Hal inilah yang kemudian menekan mata uang negara-negara berkembang.
BI merespons situasi ini dengan tetap aktif di pasar selama 24 jam. Intervensi dilakukan melalui instrumen pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Bank sentral juga terus berkomunikasi dengan para pelaku pasar untuk menjaga kepercayaan terhadap rupiah.
Ramdan menekankan bahwa kondisi pasar tidak bersifat statis. Perkembangan dalam satu, dua, tiga bulan, bahkan hingga akhir tahun bisa berubah secara dinamis. Oleh karena itu, BI berkomitmen untuk terus berada di pasar guna memastikan stabilitas rupiah.
Dari data yang ada, pelemahan rupiah sebesar 1,4 persen masih lebih rendah dibandingkan Rusia yang mencapai 5,5 persen dan Chili yang mencapai 4 persen. Thailand melemah 2,3 persen, sementara Filipina dan Korea Selatan masing-masing melemah 1 persen. India melemah 0,7 persen, dan China melemah 0,5 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun rupiah tertekan, dampaknya tidak separah negara-negara lain. BI terus berupaya menjaga stabilitas dengan berbagai instrumen dan kehadiran penuh di pasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
BI: Pelemahan Rupiah 1,4% Masih Lebih Baik dari Negara Lain
Pengontrak Bantah Minta Rp60 Juta, Konflik Rumah Surabaya Makin Panas
Spanyol ke Perempatfinal, Rodri Akui Belum Maksimal
Indonesia Kirim Tiga Tim ke FIBA 3x3 Batam Stop 2026
Menkeu Tolak Permintaan Himbara Perpanjang Tenor Dana SAL
Garcia: Kontroversi Balogun Tak Pengaruhi Belgia
Zulhas Luncurkan Alat Sampah Anti-Penuh 3 Tahun
Damkar Sumedang, Ucapkan Ultah Pakai Gas