BI Tekankan Stabilitas Rupiah Hadapi Ketidakpastian Global

Tika M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BI Tekankan Stabilitas Rupiah Hadapi Ketidakpastian Global

Gambar atau konten salah?

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih sangat tinggi. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan serius bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.

Destry menyoroti keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed, yang kembali menahan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee beberapa hari lalu. Meskipun suku bunga tidak berubah, Destry menilai pernyataan Ketua The Fed menunjukkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat. Hal ini membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, atau yang dikenal dengan istilah higher for longer. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

"Kondisi global kita ini sekarang memang ketidakpastiannya masih sangat tinggi. Walaupun dua hari yang lalu The Fed dalam FOMC sudah menyatakan mereka tidak menaikkan ataupun menurunkan suku bunganya," kata Destry secara daring dalam Editor Briefing yang digelar di Parapat, Jumat, 31 Juli 2026.

Menurut Destry, kondisi higher for longer tidak hanya tercermin dari suku bunga. Hal ini juga terlihat dari imbal hasil obligasi pemerintah AS dan inflasi yang masih relatif tinggi. "Nah ini artinya apa? Artinya di global ini mereka akan menghadapi situasi yang lumayan higher for longer. Maksudnya adalah situasi tinggi itu baik suku bunganya, baik itu yield bond atau obligasi pemerintah mereka, ataupun juga termasuk inflasinya," ujarnya.

Destry menjelaskan bahwa situasi ini akan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia dan pemerintah harus menyesuaikan kebijakan agar mampu menjaga stabilitas ekonomi. "Situasi higher for longer tentunya kita harus menjaga stabilitas. Karena konflik juga belum selesai, sehingga itu mengakibatkan barang-barang juga terganggu. Harga minyak tinggi, inflasi juga tinggi. Sehingga itu akan berdampak di kita," katanya.

Tantangan utama Bank Indonesia dalam jangka pendek, menurut Destry, adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global sekaligus mengendalikan inflasi domestik. "Nah saat ini memang salah satu tantangan yang dalam jangka pendek ini dari kami di Bank Indonesia adalah bagaimana menjaga stabilitas itu baik itu dalam kaitannya dengan nilai rupiah ataupun inflasi," pungkasnya.

Kondisi ekonomi global yang tidak menentu, terutama dari kebijakan suku bunga AS dan konflik yang belum selesai, membuat negara berkembang seperti Indonesia harus ekstra hati-hati. Bank Indonesia fokus pada dua hal utama: menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil dan mengendalikan inflasi di dalam negeri. Kedua hal ini menjadi kunci agar ekonomi Indonesia tidak terguncang oleh gejolak dari luar.

ketidakpastian ekonomi globalstabilitas nilai tukar rupiahpengendalian inflasisuku bunga The Fedhigher for longernegara berkembangkebijakan Bank Indonesia

Komentar

Memuat komentar...