BI Tingkatkan Intervensi & Beli SBN, Rupiah Stabil Tahun Ini

Sinta R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
BI Tingkatkan Intervensi & Beli SBN, Rupiah Stabil Tahun Ini

Gambar atau konten salah?

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan langkah‑langkah yang sedang dijalankan BI untuk menahan tekanan terhadap rupiah di tengah gejolak global. Ia menegaskan bahwa upaya stabilisasi saat ini bukan lagi “business as usual”, melainkan dilakukan secara all out habis‑habisan.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin 8 Mei 2026, Perry menyatakan bahwa BI telah meningkatkan intervensi valas secara besar‑besaran, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Ia menambahkan bahwa intervensi tersebut menurunkan cadangan devisa sekitar US$ 10 miliar, meski sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging agar tidak terlalu menguras devisa.

“Sehingga penurunan cadangan devisa yang sekitar US$ 10 miliar, itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini, karena yang sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, supaya ini tidak semua menguras cadangan devisa,” kata Perry.

BI-Rate tetap di kisaran 4,75 % sejak Januari 2025, sementara SRBI naik menjadi 6,41 % untuk tenor 12 bulan guna menarik kembali aliran modal asing. Gubernur mengklaim langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, di mana aliran dana asing yang sebelumnya keluar kini diklaim mulai kembali masuk.

Bank Indonesia juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder untuk menjaga likuiditas rupiah di pasar keuangan. Sepanjang 2025, BI tercatat membeli SBN sebesar Rp 332 triliun dan tambahan Rp 133 triliun secara year to date pada 2026.

“Langkah dan seterusnya adalah, sebenarnya kami belajar dulu, zaman 1997, 1998, 2008 dulu kan kita banyak fokus untuk stabilitas nilai rupiah, banyak intervensi tidak sadar intervensi ini yang menaikkan instrumen moneter tapi menguras likuiditas. Sehingga, ya mengobati stabilitas nilai rupiah tapi menimbulkan kekeringan likuiditas,” jelasnya. “Kami nggak mau itu. Makanya kami membeli pembelian SBN dari pasar sekunder, sehingga likuiditasnya ngucur lagi, sehingga tahun lalu kami beli Rp 332 triliun, year to date kami lakukan Rp 133 triliun, ini sekaligus ya, untuk satu tujuannya, adalah supaya tidak kekeringan likuiditas,” sambung dia.

Dalam strategi operasi moneternya, BI juga menjual SBN jangka pendek guna menarik inflow asing, namun membeli SBN jangka panjang agar imbal hasil atau yield obligasi pemerintah tidak melonjak terlalu tinggi.

BI turut memperketat pembelian dolar AS. Jika sebelumnya batas pembelian dipangkas dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu, mulai Juni 2026 batas tersebut kembali diturunkan menjadi US$ 25 ribu per bulan.

“Kemudian batasan pembelian dolar yang semula US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu mulai April, nanti kami sampaikan nanti mulai Juni akan diturunkan menjadi US$ 25 ribu. Sehingga pembelian dolar tanpa underlying, silahkan kalau tanpa underlying itu nanti mulai Juni menjadi US$ 25 ribu, supaya betul‑betul yang beli dolar, ‘nemen ya’, beneran seperti itu,” beber Perry.

Langkah lain yang ditempuh yakni memperluas transaksi Local Currency Transaction (LCT) rupiah‑yuan di dalam negeri yang terhubung dengan Hong Kong dan China. BI juga mulai menunjuk sejumlah bank domestik untuk melakukan transaksi offshore non‑deliverable forward (NDF).

Terakhir, BI meningkatkan pengawasan kepada bank‑bank dan korporasi yang melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar. Perry sendiri yakin dolar AS akan menguat ke kisaran Rp 16.200–16.800, atau mendekati Rp 16.500 sesuai asumsi APBN.

Dengan kombinasi intervensi valas, kebijakan suku bunga, dan pengelolaan SBN, BI berusaha menjaga stabilitas nilai rupiah sambil mencegah kekeringan likuiditas. Langkah-langkah ini menunjukkan pendekatan yang lebih hati‑hati dan terkoordinasi, menyesuaikan pelajaran dari krisis keuangan sebelumnya.

Bank Indonesiaintervensi valasSBNlikuiditas rupiahBI-RateDolar ASLCT

Komentar

Memuat komentar...