Biaya Hanami di Jepang Naik 25% Karena Inflasi Global
Gambar atau konten salah?
Tradisi musim sakura, atau hanami, di Jepang kini terpengaruh oleh inflasi global. Biaya piknik di taman-taman yang dipenuhi bunga sakura menjadi lebih mahal, sehingga banyak orang memikirkan pengeluaran mereka.
Lembaga riset swasta Dai‑ichi Life Research Institute mencatat bahwa indeks biaya makanan dan minuman untuk hanami naik 25 % sejak tahun 2020. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga kebutuhan piknik yang biasa dibawa saat musim sakura.
Sabtu (28 Maret 2026) setiap akhir Maret hingga awal April, taman-taman dan tepi sungai di Jepang biasanya dipadati warga dan wisatawan. Mereka menggelar tikar, membawa bento, camilan, dan minuman untuk menikmati mekarnya bunga sakura bersama keluarga maupun teman.
Tradisi hanami menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Jepang setiap tahun. Namun, meningkatnya biaya bahan baku membuat harga makanan dan minuman ikut terdongkrak. Kondisi ini berdampak langsung pada anggaran wisata, terutama bagi pelancong yang ingin merasakan pengalaman hanami secara autentik.
Kepala ekonom Dai‑ichi Life Research, Hideo Kumano, memperbarui indeks yang ia susun sejak 2020 dengan menghitung harga rata‑rata 14 item populer, seperti onigiri, bento, ayam goreng, keripik kentang, hingga bir. Hasilnya, biaya hanami tercatat naik 4,2 % pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 2020, kenaikannya mencapai 25 %.
Beberapa item bahkan mengalami lonjakan tajam: roti manis Jepang naik 46,1 %, minuman berkarbonasi 45,7 %, dan onigiri 45 %.
“Melemahnya yen dan kenaikan harga komoditas global menyebabkan inflasi akibat kenaikan biaya produksi di Jepang. Hanami jelas menghadapi dampak negatif dari tren inflasi global,” kata Kumano.
Kenaikan itu tak lepas dari tekanan ekonomi global sejak pecahnya Perang Rusia‑Ukraina, yang memicu lonjakan harga komoditas dan melemahkan nilai tukar yen. Dampaknya, biaya impor bahan baku di Jepang ikut meningkat.
Meski inflasi konsumen inti sempat bertahan di atas target Bank Sentral Jepang sebesar 2 % selama hampir empat tahun, angkanya melambat menjadi 1,6 % pada Februari. Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh subsidi bahan bakar dari pemerintah.
Secara keseluruhan, kenaikan biaya hanami mencerminkan dampak luas dari inflasi global pada kebiasaan budaya Jepang. Pengunjung dan penduduk setempat harus menyesuaikan anggaran mereka untuk tetap menikmati keindahan bunga sakura di tengah kondisi ekonomi yang berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
