BMKG Peringatkan El Nino 2026: Kemarau Lebih Cepat dan Kering
Gambar atau konten salah?
BMKG mengumumkan bahwa Indonesia akan segera memasuki fase El Nino. Fenomena ini dapat mempercepat kedatangan musim kemarau, menambah kekeringan dan meningkatkan suhu dalam beberapa bulan ke depan.
Indra Gustari, kepala bidang analisis variabilitas iklim BMKG, menyatakan bahwa data terbaru menunjukkan dinamika atmosfer masih diprediksi netral hingga pertengahan 2026. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi akan berubah pada paruh kedua tahun ini.
“Tapi kita harus mulai waspada di paruh kedua taun ini, karena diprediksi akan terjadi transisi ke kondisi El Nino lemah hingga moderat, dengan peluang kejadian yang cukup tinggi, yaitu di angka 50‑80 persen untuk semester 2 tahun 2026,” jelas Indra saat disiarkan di saluran resmi BMKG pada 11 April 2026.
Indra juga menanggapi istilah “El Nino Godzilla” yang sering dipakai oleh publik. Ia menegaskan secara ilmiah bahwa istilah tersebut tidak termasuk dalam kategori resmi El Nino. Ia menambahkan bahwa meskipun istilah tersebut menggambarkan intensitas ekstrem, tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya.
“Berdasarkan prediksi BMKG, ter-update bulan April ini munculnya El Nino dengan kategori sangat kuat di tahun 2026 itu relatif kecil, yaitu di bawah 20 persen. Tapi bukan berarti kita bisa bersantai, kita harus tetap waspada, karena musim kemarau kita tahun ini diprediksi akan datang lebih cepat dengan durasi yang lebih lama dibandingkan normalnya,” tambah Indra.
Di sisi kesehatan, Dr Josue Limage, MD, spesialis kedokteran keluarga, mengingatkan bahwa udara kering dapat menimbulkan berbagai masalah pernapasan. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan asma, bronkitis, sinusitis, dan mimisan.
“Ketika udara terlalu kering, sinus Anda juga akan mengering,” kata Dr Limage, yang merujuk pada temuan dari Cleveland Clinic.
“Lendir yang biasanya kental dan lengket menjadi terlalu kering. Hal itu membuatnya kurang efektif sebagai perangkap kuman. Anda lebih mungkin terkena flu saat udara kering karena lendir Anda tidak menangkap kuman yang Anda hirup sesering biasanya,” lanjut Dr Limage.
Selain gangguan pernapasan, udara kering juga memicu masalah lain, di antaranya:
- Mata merah, gatal, dan iritasi: kelembapan rendah mengurangi air mata yang melindungi mata.
- Sakit tenggorokan: kurangnya lendir membuat tenggorokan menjadi gatal dan meradang.
- Sakit kepala: iritasi sinus dan dehidrasi sering kali menyebabkan sakit kepala.
- Mulut kering (xerostomia): udara kering menyerap kelembapan di mulut.
- Sakit telinga: selaput lendir di telinga kering dapat bereaksi.
- Kulit kencang, iritasi, dan bersisik: kelembapan rendah menarik air dari lapisan atas kulit.
- Bibir pecah‑pecah: kulit tipis di bibir lebih sensitif dan kering.
- Sembelit: dehidrasi memengaruhi feses dan dapat memperburuk kondisi eksim atau alergi musiman.
- Stres: kombinasi batuk, tenggorokan gatal, dan gangguan tidur dapat menambah tekanan tubuh.
Perlu diingat bahwa kondisi ini bersifat kumulatif. Jika tidak ditangani, dapat memengaruhi kualitas tidur, motivasi berolahraga, dan variabilitas detak jantung.
Dengan prediksi BMKG, Indonesia dihadapkan pada risiko kemarau yang lebih cepat dan durasi lebih lama. Sementara peluang El Nino sangat kuat di tahun 2026 masih di bawah 20 persen, risiko transisi ke El Nino lemah hingga moderat tetap tinggi. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi, baik dari segi kebersihan pribadi maupun pengelolaan sumber daya air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
