BMKG Peringatkan El Nino 2026: Kemarau Panjang, Kebakaran
Gambar atau konten salah?
BMKG telah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi El Nino 2026, yang diperkirakan akan aktif mulai pertengahan tahun. Fenomena ini diharapkan mempercepat datangnya musim kemarau, memperpanjangnya, serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di beberapa wilayah Indonesia.
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur naik. Fenomena ini dikenal sebagai El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan memengaruhi pola atmosfer global, termasuk curah hujan di Indonesia.
Menurut World Health Organization (WHO), setiap kejadian El Nino dapat memberikan dampak berbeda tergantung intensitas, durasi, dan interaksinya dengan kondisi iklim lain. Di kawasan Asia Tenggara, El Nino biasanya menurunkan curah hujan sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dan kering. Kondisi tersebut dapat memicu krisis air bersih, gagal panen, penurunan kualitas udara, dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG menyatakan bahwa pada awal 2026 kondisi iklim global masih berada dalam fase ENSO netral. Namun, analisis BMKG pada akhir 31 Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II 2026. Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan peluang terjadinya El Nino berada pada kisaran 50 % hingga 80 %.
“Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II 2026. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” ujar Guswanto, dikutip dari laman resmi BMKG.
Untuk mengantisipasi dampak, BMKG mulai memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Polri, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, hingga relawan di lapangan. Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau 2026.
“Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan saat ini lebih difokuskan pada langkah preventif atau pencegahan sejak dini dibanding pemadaman setelah kebakaran terjadi. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi strategi utama BMKG untuk menghadapi El Nino 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa OMC dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan yang masih tersedia sebelum kondisi benar-benar kering. “Sekarang di musim kemarau kita melakukan operasi lagi ketika masih ada awan, kita melakukan intervensi agar daerah‑daerah itu dapat terisi catchment area‑nya hingga tampungan airnya di embung‑embung, di waduk‑waduk, hingga sampai di Danau Toba sekalipun agar kita jadi lebih siap,” kata Teuku Faisal.
Operasi tersebut difokuskan untuk mengisi tampungan air seperti embung, waduk, bendungan, dan daerah tangkapan air agar cadangan air tetap tersedia saat kemarau mencapai puncaknya. BMKG juga menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan apabila masih terdapat awan yang memungkinkan untuk disemai. “Kalau tidak ada awan kita tidak bisa semai,” imbuhnya.
BMKG akan memasang ground‑based generator atau alat penyemai awan di sejumlah gedung tinggi di Ibu Kota. Teknologi tersebut disiapkan untuk memicu hujan ketika Jakarta mengalami periode panjang tanpa hujan yang dapat memperburuk polusi udara. “Ketika Jakarta dua minggu, tiga minggu tidak ada hujan sama sekali itu kan kualitas udaranya akan menurun,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal.
Menurut Faisal, alat tersebut nantinya akan digunakan untuk melepaskan bahan semai seperti uap air atau flare khusus ketika terdapat awan yang memungkinkan untuk dihujankan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi antisipasi BMKG menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain operasi modifikasi cuaca, BMKG bersama Kementerian Kehutanan juga memperkuat pengawasan terhadap kondisi lahan gambut yang rawan terbakar saat musim kemarau. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemantauan tinggi muka air tanah menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah karhutla.
“Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re‑wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Kehutanan.
BMKG dan Kemenhut juga mulai memasang berbagai alat operasional utama serta sensor meteorologi di kawasan hutan untuk meningkatkan akurasi pemantauan iklim nasional. Enam provinsi menjadi fokus pengawasan karhutla, yaitu:
- Riau
- Jambi
- Sumatera Selatan
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Selatan
Wilayah‑wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama karena banyak area lahan gambut yang mudah terbakar ketika curah hujan menurun drastis. BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau 2026 mulai berlangsung secara bertahap sejak 1 April 2026 hingga 30 Juni 2026. Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak kemarau pada 1 Agustus 2026 hingga 30 September 2026.
El Nino sendiri diperkirakan mulai aktif pada 1 Juni 2026 dengan intensitas moderat hingga kuat. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibanding rata‑rata iklim dalam 30 tahun terakhir. Karena itu, pemerintah mulai memperkuat berbagai langkah antisipasi sejak sebelum kemarau memasuki fase puncak.
Jika El Nino berkembang sesuai prediksi, masyarakat berpotensi menghadapi sejumlah dampak selama musim kemarau 2026. Mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, suhu udara yang terasa lebih panas, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan akibat asap kebakaran hutan. Di sektor pertanian, kemarau panjang juga dapat memengaruhi hasil panen dan ketersediaan pangan. Sementara di perkotaan, minimnya hujan berpotensi memperburuk kualitas udara, terutama di wilayah padat seperti Jakarta.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air, menghindari aktivitas pembakaran lahan, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG selama musim kemarau berlangsung.
Dalam konteks ini, upaya BMKG dan kementerian terkait menegaskan bahwa pencegahan lebih penting daripada penanganan setelah kejadian. Dengan koordinasi lintas sektor, pemantauan intensif, dan penggunaan teknologi seperti OMC, pemerintah berusaha meminimalkan dampak El Nino 2026 bagi masyarakat dan lingkungan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Olahraga Bersama Perkuat Sinergi TNI-Polri-Kejaksaan Muba
630 Remaja Tulungagung Positif HIV
Semifinal Piala Dunia: Bentrok Pemain Madrid-Barca
XLSmart Gandeng Tencent Cloud untuk Migrasi Skala Besar
Gubernur Deru Tinjau Antrean Biosolar, Usul Selang Nozzle Lebih Panjang
Polres-Kejari-Kodim Gianyar Gelar Rabu Kasan
NWDI Bantah TGB Terkait Ponpes Kasus Santri
Evil Dead Burn" Siap Tayang di Indonesia 17 Juni
Enam Kecamatan di Makassar Dilanda Kekeringan Parah