BNI Cetak Laba Rp 10,8 Triliun di Semester I 2026
Gambar atau konten salah?
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat laba bersih sebesar Rp 10,8 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini didorong oleh pertumbuhan bisnis yang stabil, kualitas aset yang terjaga, dan kenaikan pendapatan.
Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi Rp 22,3 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) juga meningkat 14,2% menjadi Rp 9 triliun.
Kedua sumber pendapatan ini tumbuh secara berimbang. Hasilnya, laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) mencapai Rp 18,5 triliun. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode semester pertama.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menjelaskan strategi perusahaan di tengah kondisi pasar yang berubah. "Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Rabu, 05 Agustus 2026.
Hingga akhir Juni 2026, penyaluran kredit BNI tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp 968,5 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh portofolio kredit yang semakin beragam di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis. Mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga konsumer.
Ekspansi kredit dilakukan secara hati-hati. BNI mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko masing-masing debitur. Tujuannya, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.
Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, dana murah atau current account saving account (CASA) BNI tumbuh 11,2% secara tahunan. Rasio CASA tetap terjaga di level 65,4%. Kondisi ini membantu efisiensi biaya dana. Tercatat, cost of fund dana pihak ketiga membaik menjadi 2,56%, dibandingkan 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas aset, BNI menunjukkan ketahanan yang baik. Hingga akhir Juni 2026, rasio kredit bermasalah atau loan at risk (LAR) membaik dari 11,0% menjadi 8,1%. Sementara rasio non-performing loan (NPL) berada di level 1,9%.
Pengguna wondr by BNI Tumbuh
Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta. Volume transaksi melalui aplikasi ini tumbuh 110% secara tahunan. Di segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu. Volume transaksinya tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp 6.039 triliun.
Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE atau Branch, Region & Area Value Empowerment kini telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI. Program ini memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan. BRAVE juga meningkatkan produktivitas jaringan dan mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.
Putrama menuturkan, transformasi digital dan implementasi BRAVE merupakan bagian dari strategi jangka panjang BNI. Tujuannya membangun organisasi yang lebih lincah, memperkuat kapabilitas bisnis, dan menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nasabah.
"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," ujar Putrama.
Kinerja BNI di semester pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan di berbagai lini, mulai dari laba, kredit, hingga jumlah pengguna layanan digital. Perusahaan juga berhasil menekan rasio kredit bermasalah dan biaya dana. Strategi ekspansi kredit yang selektif dan penguatan jaringan melalui BRAVE menjadi fokus utama BNI ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
