Bocah Kecanduan Bensin Dievakuasi ke Jakarta
Gambar atau konten salah?
Bandung — Seorang bocah perempuan bernama Hana (10), asal Sukabumi, yang videonya viral karena kecanduan menghirup bau bensin, akhirnya mendapat pertolongan. Kondisinya yang memprihatinkan menarik perhatian banyak orang di media sosial. Kini, Hana resmi dievakuasi oleh tim dari Yayasan Rumah Kepedulian, yang didirikan oleh Pratiwi Noviyanthi, untuk menjalani pengobatan yang lebih serius.
Di balik evakuasi itu, ada seorang warga bernama Putri Rahma. Dialah orang pertama yang menjadi penghubung, hingga akhirnya kondisi Hana diketahui oleh tim Teh Novi, sapaan akrab Pratiwi Noviyanthi.
Putri menceritakan awal mula yayasan itu melirik kondisi Hana. Semuanya bermula dari sebuah pesan singkat yang masuk ke akun media sosialnya.
"Awalnya ada yang menghubungi lewat direct message (DM) TikTok, memberi tahu kalau dia dari salah satu admin Teh Novi. Saya langsung balas dan minta kontak WhatsApp-nya. Setelah ada kontak, kami lanjut chatting-an," ujar Putri, Sabtu (11 Juni 2026).
Dua hari kemudian, pihak admin kembali menghubungi Putri. Mereka menanyakan kondisi terkini Hana. Putri pun menceritakan apa yang ia lihat sendiri. Kebetulan, sore hari sebelum dihubungi, Putri sempat melihat Hana kembali melakukan kebiasaan berbahayanya itu di tempat umum.
Saat itu, Hana sudah berhasil membuka jok motor dan memutar tutup tangki bensin. Ia ingin menghirup aromanya dengan leluasa. Putri yang panik langsung berusaha menghentikan aksi bocah itu bersama seorang satpam setempat. Namun, Hana malah mengamuk.
"Aku larang bersama security, Hana berontak, menangis, ngamuk, sampai memukul," kenang Putri. Ia menggambarkan betapa kuatnya ketergantungan Hana pada bau bensin.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, tim Pratiwi Noviyanthi bergerak cepat. Keesokan harinya, mereka memberi tahu Putri bahwa Hana akan segera dievakuasi pada hari Jumat (10 Juni). Kabar baik ini langsung disampaikan Putri kepada keluarga Hana. Mereka menyambutnya dengan penuh sukacita dan harapan baru.
Sempat Ditangani 5 Dokter Spesialis
Agar informasi evakuasi tersampaikan dengan jelas, Putri sengaja mampir ke rumah Hana sepulang kerja. Sesampainya di sana, rumah Hana ternyata sudah dipenuhi oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Puskesmas setempat.
Dari pertemuan malam itu, terungkap bahwa Hana baru saja pulang dari pemeriksaan dokter spesialis THT. Secara medis, penanganan terhadap Hana sebenarnya sudah berjalan. Bahkan, sudah melibatkan lima dokter spesialis sekaligus.
Mengetahui ada keterlibatan instansi pemerintah, Putri tidak ingin melangkahi wewenang. Malam itu juga, ia mengembalikan seluruh keputusan tentang masa depan Hana kepada pihak keluarga. Sebab, dirinya hanyalah seorang perantara yang bergerak atas dasar kemanusiaan.
"Putri di sini tidak punya hak apa-apa untuk memberikan keputusan, di sini Putri hanya menjembatani. Niat awal Putri semoga Hana bisa segera ditindak lebih serius dan ada yang bisa membantu agar Hana bisa sembuh atau menjadi lebih baik," tuturnya.
Diboyong ke Jakarta Tanpa Biaya
Berdasarkan rencana yang ia ketahui dari koordinasi dengan yayasan, Hana nantinya akan dibawa ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosis secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada psikologis dan fisik sang bocah.
Pihak yayasan ingin menyamakan hasil diagnosis tim dokter di Sukabumi dengan tim dokter di Jakarta. Setelah hasil diagnosis medis itu keluar, barulah pihak yayasan akan mengonfirmasi kepada keluarga mengenai langkah pengobatan selanjutnya. Apakah Hana harus menjalani terapi khusus, rehabilitasi, atau dirawat di Panti Assodiqiyah.
Pihak yayasan juga memastikan bahwa seluruh proses pengobatan ini tidak akan memungut biaya sepeser pun dari keluarga Hana yang kurang mampu. Semua fasilitas sudah ditanggung sepenuhnya. "Tidak dipungut biaya seperak pun, bahkan baju saja enggak bawa karena sudah disediakan di sana. Subhanallah," ucap Putri haru.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pihak yayasan sangat menghormati regulasi pemerintah. Jika nantinya pihak Dinas Sosial (Dinsos), Kementerian Sosial (Kemensos), atau Dinas Kesehatan menghendaki Hana tetap dirawat di Sukabumi, pihak yayasan akan mempersilakannya agar tidak menyalahi aturan yang berlaku.
Hana sendiri diketahui merupakan anak berkebutuhan khusus yang saat ini bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Selama ini, ada seorang dermawan yang telaten mengurus dan membiayai kebutuhan sekolah Hana dari awal hingga saat ini.
Sekarang, dengan dievakuasinya Hana ke Jakarta, ada secercah harapan besar agar bocah malang itu bisa terlepas dari kecanduan bensin dan tumbuh dengan masa depan yang lebih sehat.
Sebelumnya, kehilangan orang tua menjadi pukulan batin yang teramat berat bagi Hana. Anak berusia 10 tahun di Cikole, Kota Sukabumi ini menderita kecanduan parah menghirup uap bensin. Kebiasaan ini diduga kuat sebagai pelarian dari trauma mendalam setelah ditinggal wafat oleh ayah dan ibunya.
Pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kota Sukabumi mengungkapkan bahwa kebiasaan buruk Hana itu tidak terjadi sejak kecil. Berdasarkan penuturan sang kakak yang kini merawatnya, Hana mulai sering menghirup uap bensin dalam setahun terakhir, tepatnya sejak sang ayah meninggal dunia.
"Semenjak ayahnya meninggal tahun lalu, baru ada kebiasaan itu. Jadi kita belum tahu gimana cerita awalnya bisa adiksi terhadap uap bensin. Tetapi itu belum lama setelah meninggal kedua orang tuanya," ujar Sekretaris Dinas Sosial Kota Sukabumi, dr. Lulis Delawati.
Dinsos menduga kuat, trauma psikologis akibat kehilangan figur orang tua membuat Hana melarikan diri ke zat adiktif. Sayangnya, uap bensin yang dihirupnya kini telah memengaruhi saraf dan kondisi psikologisnya.
Kasus Hana menunjukkan bahwa kecanduan pada anak bisa dipicu oleh tekanan psikologis yang berat, seperti kehilangan orang tua. Penanganan yang melibatkan banyak pihak, dari warga hingga pemerintah, menjadi kunci untuk membantunya pulih. Evakuasi ke Jakarta diharapkan bisa memberikan diagnosis dan terapi yang lebih tepat, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga dan instansi terkait.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ai Juariah Bebas Denda Rp150 Juta, Segera Pulang dari Libya
Pejabat Korut Dipecat karena Suap Besar
Takut dan Panik, Pengemudi Tabrak Lari di Bandung Ditangkap
Perpustakaan Gasibu Dibongkar, Diganti Digital
Wali Kota Bandung Mulai Stabil
2.663 Pegawai Jabar Diperiksa, Banyak yang Ngaku HP Dipakai Anak
Berita Terbaru
Bocah Kecanduan Bensin Dievakuasi ke Jakarta
Karnaval Warga Batu Picu Macet, Polisi Berlakukan Buka-Tutup
Persahabatan Bellingham-Haaland: Oase di Tengah Rivalitas
Harga Tiket Perempatfinal Piala Dunia 2026 Anjlok 65%
Kisah Sema: Lebam Tubuh Tanda Gagal Ginjal Stadium 5
Norwegian dan British Airways Taruhan Foto Profil
