BTG: Peran Wisatawan dalam Pelestarian Rumah Tradisional Kotagede

Dwi H. · 2 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
BTG: Peran Wisatawan dalam Pelestarian Rumah Tradisional Kotagede

Gambar atau konten salah?

Between Two Gates (BTG) terletak di Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Jogja dan merupakan kawasan cagar budaya yang masih dijaga tata ruang rumah tradisional Jawa. Nama BTG berasal dari penelitian yang dilakukan Jurusan Arsitektur UGM bersama Universitas Wisconsin pada tahun 1986. Peneliti menamainya “Between Two Gates” karena berada di antara dua gerbang.

Menurut Joko Nugroho, pengelola BTG, “Ini sebenarnya bukan jalan umum, melainkan bagian dari rumah warga. Konsepnya di Kotagede disebut rukunan,” ia bilang saat berbincang di lokasi pada Minggu, 07 Juni 2024. Ia melanjutkan, “Jadi karena ini semuanya itu menghadapnya sama, kemudian komposisi tata ruangnya sama, sehingga kalau ini dibuka itu kan menjadi satu deretan yang seolah-olah ini menjadi sebuah jalan gitu, padahal ini sebenarnya bukan jalan umum dan ini menjadi bagian dari rumah,” jelasnya. Meskipun demikian, Joko menegaskan bahwa wisatawan tetap diperbolehkan berkunjung ke BTG. Namun, khususnya rombongan wisata, diharapkan melakukan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pengelola.

Selama ini, pengelola telah bekerja sama dengan berbagai tour guide dan travel agent. Mereka biasanya menghubungi warga sebelum membawa tamu ke kawasan tersebut. Informasi kedatangan rombongan kemudian disampaikan kepada warga melalui grup komunikasi internal agar aktivitas kunjungan tidak mengganggu kehidupan sehari‑hari masyarakat. Joko menjelaskan, “Biasanya mereka memberi tahu dulu, tanggal berapa datang, jumlah tamunya berapa, dan kegiatannya apa. Jadi warga bisa mempersiapkan,” ujarnya.

Tak hanya rombongan, Joko menyebut banyak pengunjung perorangan yang datang setelah melihat unggahan di media sosial justru lebih sulit dikendalikan. Menurutnya, banyak wisatawan datang tanpa mengetahui bahwa BTG merupakan kawasan hunian yang masih ditempati oleh warga setempat. “Problem yang kita hadapi sekarang itu orang yang datang hanya sebagai personal dan itu sering bergantian seperti itu. Enggak bisa kita kontrol, wong mereka datangnya aja perorangan,” tuturnya.

Oleh karena itu, Joko meminta wisatawan yang datang ke BTG untuk tetap menjaga sopan santun dan menghormati privasi warga dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan. Ia menyatakan, “Keberadaan wisatawan sebenarnya disambut baik selama kunjungan berlangsung tertib dan menghargai warga. Mengucapkan permisi atau kulo nuwun saat melintas. Tidak masuk ke area rumah atau pendopo tanpa izin. Tidak membuat keramaian yang mengganggu warga. Tidak membuang sampah sembarangan. Menghormati aktivitas sehari‑hari masyarakat setempat,” pungkasnya.

Sejarah penutupan sementara BTG berawal pada Minggu, 31 Mei 2024 pagi. Pada pukul 07.00, rombongan wisatawan asing sebanyak dua bus datang ke BTG tanpa pemberitahuan. Kedatangan puluhan wisatawan asing secara mendadak membuat warga di kawasan BTG tak nyaman. Joko menjelaskan, “Itu ada serombongan wisatawan manca ya, katanya dari Asia itu, dua bus. karena pagi sekali kemudian juga mereka ini banyak ya jadi ramai banget dan berisik,” jelasnya.

Dengan aturan dan kerja sama yang terstruktur, BTG berusaha menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kepentingan wisata. Kegiatan kunjungan tetap diatur agar tidak mengganggu kehidupan warga, sekaligus memberikan pengalaman yang bermakna bagi para pengunjung. Penyampaian informasi yang jelas dan pemberitahuan sebelumnya menjadi kunci untuk menghindari konflik. BTG tetap terbuka bagi wisatawan, asalkan mereka menghormati norma dan privasi warga setempat. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana pelestarian warisan budaya bisa berjalan bersamaan dengan pariwisata yang bertanggung jawab.

Komentar

Memuat komentar...