Bu Atun Maafkan Siswa Setelah Video Pelecehan Viral
Gambar atau konten salah?
Syamsiah, yang dikenal sebagai Bu Atun, mengajar di SMAN 1 Purwakarta sejak tahun 2003. Pada 20 April 2026, sebuah video di media sosial menampilkan siswa yang melakukan pelecehan terhadapnya. Bu Atun tidak menyadari video tersebut viral sampai ia melihatnya di platform online.
Ia merasa sedih, namun ia memilih untuk memaafkan dan mendoakan. “Saya manusiawi kalau saya sedih, tapi keimanan saya tidak akan dirusak oleh rasa sedih, dan sakit manusiawi, tapi keimanan saya mengobati luka hati saya agar anak-anak saya selamat dunia akhirat, itu yang ada di hati saya,” jelasnya kepada wartawan.
Bu Atun menegaskan bahwa ia sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. “Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” tambahnya. Ia tidak pernah melaporkan siswa-siswanya, karena menurutnya tugas utama seorang pendidik adalah membimbing dan memperbaiki perilaku anak didik.
Ia percaya bahwa kenakalan siswa tidak bersifat permanen. Setiap anak memiliki peluang menjadi lebih baik jika diberi bimbingan dan kesempatan. Syamsiah menekankan bahwa perubahan memerlukan proses. Ia berusaha menegakkan aturan dan menjaga kenyamanan siswa lain selama pembelajaran, serta tetap adil dengan menghargai hak semua siswa.
Peristiwa ini merupakan pengalaman pertama Bu Atun dalam menghadapi situasi semacam ini. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak mengubah komitmennya dalam mendidik dengan pendekatan karakter. Ia menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu sebagai dasar utama setiap siswa.
Syamsiah mengatakan bahwa ia selalu menanamkan pendidikan karakter, meski mungkin belum sepenuhnya sampai. Menurutnya, tugas guru adalah terus sabar dan membimbing. Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak sekaligus menjadi momentum memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
“Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak,” tutupnya. Dengan sikapnya, Bu Atun menunjukkan bahwa meski menghadapi tantangan, ia tetap fokus pada tujuan utama: membentuk generasi yang berakhlak dan berilmu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Indonesia Kekurangan Talenta STEM, Ilmu Sosial Tak Ditinggalkan
Tim PENS raih peringkat tiga di kompetisi satelit mini dunia
Jakarta Punya Dua Jalur SPMB Unik, Biaya Pendidikan Ditanggung Penuh
Aturan MPLS 2026 Resmi: Lima Hari, Bukan Tiga
FSGI Temukan Gangguan Sistem dan Kecurangan di SPMB Sekolah Maung
SMA CT ARSA Sukoharjo Puncaki Penerimaan SNBT 2026
Berita Terbaru
Rektor ITB Usulkan Mahasiswa Tahu Nilai UTBK Dulu Sebelum Daftar Kampus
Toyota Fortuner Pelat Merah Dilelang, Pajak Cuma Rp 1,8 Juta
Tecno Rilis EllaClaw, Agen AI yang Bisa Otomatiskan Tugas Ponsel
Ahli Bantah Gempa California dan Jepang Saling Terkait
Jepang Kembali Gagalkan Tim Eropa, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia
Bali Siapkan 3 Kawasan Surga Pajak, Pajak 0% Ditawarkan
