Cadangan Devisa BI Akhir April 2026: US$146,2 Miliar Kuat
Gambar atau konten salah?
Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 sebagai respons terhadap pernyataan Gubernur Perry Warjiyo mengenai operasi stabilisasi nilai tukar rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 mencapai US$ 146,2 miliar. US$ 146,2 miliar dianggap tetap kuat dan memadai untuk mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Menurut Ramdan, US$ 146,2 miliar setara dengan sekitar 114% kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional IMF. "Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114% dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan oleh IMF dan mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia," kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Rabu (19 Mei 2026).
Ramdan menambahkan bahwa BI selalu mengelola cadangan devisa secara terukur guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.
Sementara itu, Perry sebelumnya di depan anggota DPR RI mengungkapkan langkah-langkah BI untuk menahan tekanan terhadap rupiah di tengah gejolak global. Ia menyebut langkah stabilisasi saat ini tidak lagi menggunakan cara biasa, melainkan sudah dilakukan secara habis-habisan.
Perry menjelaskan bahwa BI telah meningkatkan intervensi valas secara besar-besaran, baik di pasar domestik maupun luar negeri. Intervensi tersebut membuat cadangan devisa turun sekitar US$ 10 miliar, meski sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging agar tidak terlalu menguras devisa.
"Sehingga penurunan cadangan devisa yang sekitar US$ 10 miliar, itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini, karena yang sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, supaya ini tidak semua menguras cadangan devisa," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (8 Mei 2026).
BI sebelumnya mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 sebesar US$ 146,2 miliar atau setara Rp 2.529 triliun (kurs Rp 17.300). Jumlah tersebut menurun dibandingkan posisi pada bulan sebelumnya yang sebesar US$ 148,2 miliar.
Cadangan devisa, atau cadangan mata uang asing, merupakan aset penting bagi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar dan menanggulangi ketidakpastian ekonomi global. Dengan cadangan yang kuat, Indonesia dapat menahan fluktuasi pasar dan menjaga kepercayaan investor.
Keterangan ini menegaskan bahwa BI terus menjaga cadangan devisa secara proaktif, meski mengalami penurunan kecil akibat intervensi valas. Kebijakan ini bertujuan memastikan stabilitas rupiah dan ketahanan ekonomi dalam kondisi global yang tidak menentu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
MSCI Perketat Aturan Saham EPI, Berlaku 2026
Dolar Menguat, Ketegangan Timur Tengah dan Minyak Jadi Pemicu
IHSG Menguat 1,10%, Asing Beli Bersih Rp725 Miliar
IHSG Dibuka Hijau di Level 6.200
Dolar AS Mendekati Rp 18.000, Konflik Timur Tengah Picu Penguatan
IHSG Sesi I Menguat, Asing Jual Bersih Rp302 Miliar
