Cakupan Imunisasi Aceh 33% Menimbulkan 263 Kasus Campak
Gambar atau konten salah?
33% cakupan imunisasi di Aceh masih sangat rendah dibandingkan dengan rata‑rata nasional 80,2%. Rendahnya angka ini berujung pada 263 kasus campak yang dilaporkan di seluruh wilayah Aceh.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyoroti peran ayah dalam keputusan imunisasi. Ia menjelaskan bahwa ketika waktunya imunisasi, ayah sering tidak berada di rumah karena bekerja. “Nanti akan kita buat modifikasi bagaimana misalnya imunisasi pada saat hari Sabtu atau hari libur sehingga bapaknya ikut,” ujarnya kepada wartawan di Banda Aceh pada 27 Mei 2026.
Selama kunjungan kerja, Dante meninjau layanan Posyandu dan Puskesmas bersama Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, dan Ketua PKK Aceh, Marlina. Ia juga secara langsung menyuntikkan imunisasi pada satu bayi di Puskesmas Batoh.
Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya cakupan adalah anggapan masyarakat yang salah kaprah: anak akan demam setelah imunisasi. Ia menjelaskan proses tubuh dan menekankan bahwa demam pasca imunisasi tidak berbahaya. “Mungkin suhunya naik sedikit, karena memang pada saat suhu naik tersebut antibodinya, kekebalan tubuhnya, sedang dibentuk. Kekebalan tubuh yang sedang dibentuk itu membutuhkan mekanisme dan metabolisme dalam tubuh yang harus suhunya naik dulu. Kalau suhunya naik, berarti kekebalannya bagus. Sebenarnya enggak berbahaya demam-demam seperti itu. Nah, itu tadi beberapa kendala yang menjadi masalah di Aceh,” jelasnya.
Dante mengingatkan bahwa cakupan imunisasi di Aceh pernah mencapai 83% pada tahun 2020 sebelum pandemi. Namun, isu vaksin selama COVID‑19 membuat banyak orang enggan imunisasi anak.
Untuk meningkatkan angka cakupan, pemerintah pusat dan daerah berencana melakukan berbagai upaya. Menurut fatwa MUI dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, imunisasi adalah mubah atau dibolehkan.
Ia menekankan kembali dampak rendahnya cakupan: “Dengan cakupan 33% itu, di Banda Aceh itu angka yang terkena campak itu pada tahun ini seluruh Aceh itu sudah 263 kasus campak di seluruh Aceh. Di Banda Aceh sendiri ada 24 kasus yang terkena campak. Ini karena cakupan imunisasi yang rendah. Nanti kalau cakupan imunisasinya sudah bagus, maka kasus-kasus penyakit yang bisa dicegah karena imunisasi itu bisa kita tanggulangi. Dan yang penting adalah bahwa anggapan-anggapan mengenai imunisasi harus kita perbaiki,” tambahnya.
Kasus campak yang meluas menandakan perlunya perbaikan persepsi publik dan penyesuaian jadwal imunisasi agar lebih mudah diikuti, khususnya bagi ayah yang bekerja. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan cakupan imunisasi di Aceh, sehingga risiko penyakit menular dapat dikurangi secara signifikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
