Cerita Kebaya di Depok Mendorong Kebaya Sehari‑hari

Kartika D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Cerita Kebaya di Depok Mendorong Kebaya Sehari‑hari

Gambar atau konten salah?

22 April 2026, sebuah acara bernama Cerita Kebaya: Diskusi, Praktik Berkain, dan Trunk Show digelar di Rumah Grypuri, Perumahan Depok Indah, Depok. Acara ini menampilkan kebaya sebagai pakaian yang dapat dipakai sehari‑hari, dari pasar sampai ke sawah.

Kebaya sering dianggap hanya untuk pernikahan atau acara formal, namun sebenarnya kebaya bisa menjadi *Outfit of the Day* (OOTD) bagi perempuan Indonesia. Banyak orang memakai kebaya ketika berbelanja di pasar, bekerja di sawah, atau bahkan saat bersantai di rumah.

Rahmi Hidayati, pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, menjadi motor acara tersebut. Ia menciptakan suasana yang ramah dan mengajak peserta dari berbagai kalangan untuk merenungkan strategi melestarikan warisan budaya bangsa.

Belakangan ini, banyak perempuan memakai kebaya, tetapi kebanyakan hanya pada acara resmi atau perayaan hari besar. Rahmi menyebutnya sebagai hambatan terbesar. “Fakta itu yang kita hadapi saat ini. Anggapan bahwa mengenakan kebaya dan kain tradisional masih menjadi perkara yang rumit,” kata Rahmi.

Namun, ada kelompok yang lebih fleksibel. Rahmi mencontohkan mahasiswi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik serta Fakultas Sastra yang semakin berani mengenakan kebaya. Mereka memadukan kebaya dengan celana jeans atau pakaian kasual lainnya, bukan dengan kain seperti pakemnya.

Rahmi menanggapi perubahan ini dengan pendekatan tidak konfrontatif. “Aku nggak protes. Aku bilang, ‘Kalian keren‑keren loh pakai kebaya atasnya. Ih, lebih keren lagi kalau bawahnya pakai kain loh,’” sambil ketawa‑keta. Mereka jawabnya hampir sama: “Ribet, Bu, kalau pakai kain.” Di situlah kita masuk, “Ih gampang kok, nih nanti kita bikin tutorial berkain,” kata Rahmi.

Dengan cara ini, Rahmi ingin “meracuni” anak muda agar bangga berkebaya. Ia mengajarkan tutorial agar mereka tahu cara memakai kebaya yang nyaman untuk aktivitas harian.

Di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, dan Pasar Gede, Solo, Rahmi menemukan bahwa kebaya sudah langka. “Pas ke Jogja itu di Pasar Beringharjo, cuman ketemu ibu‑ibu pakai kebaya itu enam orang. Itu pun sudah nenek‑nenek yang jualan jamu. Di Solo juga begitu, di Pasar Gede tiap kali ke sana pasti cari nenek‑nenek itu buat difoto karena selalu pakai kebaya. Cuman tiga orang,” kata Rahmi.

Fenomena ini mengingatkan bahwa kebaya mulai tergerus oleh zaman, bahkan di pusat‑pusat pelestarian tradisi. Pada masa lalu, nenek moyang kita biasa menaiki sepeda membawa padi ke pasar dengan mengenakan kebaya secara luwes.

Di akhir diskusi, Rahmi menegaskan bahwa membela negara di era modern tidak harus menggunakan senjata, melainkan dengan mempertahankan identitas nasional melalui pakaian adat seperti kebaya. Itu adalah bentuk patriotisme nyata saat ini.

Rahmi mengajak masyarakat, khususnya ibu‑ibu, untuk membiasakan kembali kebaya di keluarga. “Misalnya keluarga di ulang tahun kasih hadiah kebaya, nanti difoto‑foto pakai kebaya, pakai kain. Tinggal bilang, ‘Ih kamu lucu loh, cantik loh pakai kebaya,’” kata dia.

Kebaya tetap menjadi simbol identitas, dan upaya Rahmi menegaskan pentingnya melestarikannya.

KebayaCerita KebayaRahmi HidayatiKomunitas Kebaya IndonesiaOOTDPelestarian Warisan Budaya

Komentar

Memuat komentar...