CKD, Penyakit Diam: Wanita Perlu Waspada Gejala Awal

Putri N. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
CKD, Penyakit Diam: Wanita Perlu Waspada Gejala Awal

Gambar atau konten salah?

CKD sering disebut “silent killer” karena biasanya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru menyadari penyakit ini ketika ginjal sudah rusak parah.

Dr. Rosnawati Yahya, konsultan nefrologi dan dokter transplantasi ginjal di Sunway Medical Centre, Selangor, Malaysia, menjelaskan bahwa kebanyakan pasien datang ke dokter ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis. “Tiga stadium pertama CKD biasanya tanpa gejala. Jika Anda menunggu gejala, Anda sudah terlambat,” ucapnya.

Di balik angka, penyebab utama CKD masih didominasi oleh kondisi metabolik. Diabetes menyumbang 56 persen kasus gagal ginjal, sementara hipertensi mencapai 30 persen, menurut data Registrasi Dialisis dan Transplantasi Malaysia tahun 2023.

Gejala awal sering terlewat karena mirip keluhan umum. Kelelahan, perubahan hormon, atau anemia biasanya dianggap biasa. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai:

  • Kelelahan berkepanjangan
  • Tubuh terasa lemas
  • Sering buang air kecil di malam hari
  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah

Wanita sering menganggap gejala-gejala ini sebagai stres, penuaan, atau perubahan hormon, bukan sebagai tanda ginjal. Dr. Rosnawati menegaskan bahwa tes darah bisa keliru jika tidak diperiksa dengan tepat. Karena wanita umumnya memiliki otot lebih sedikit, kadar kreatinin yang “normal” mungkin masih menutupi masalah ginjal tahap awal. Angka 90 bisa baik bagi pria bertubuh besar, tetapi pada wanita bertubuh mungil, itu bisa menandakan penurunan cadangan ginjal.

Selain itu, penyakit autoimun seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) lebih sering menyerang wanita, dengan rasio hingga 9:1 dibanding pria. SLE sering melibatkan gangguan ginjal, menambah beban risiko.

Fase kehidupan tertentu juga meningkatkan risiko. Kehamilan dan menopause dapat memperparah kondisi. Komplikasi seperti preeklampsia dan diabetes gestasional dapat menjadi tanda masalah metabolik atau vaskular yang mendasari, serta meningkatkan risiko CKD hingga dua sampai empat kali lipat di kemudian hari. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) juga disebut sebagai faktor risiko yang sering terabaikan. PCOS terkait erat dengan resistensi insulin, obesitas, dan sindrom metabolik, yang dapat menyebabkan diabetes dan tekanan darah tinggi di usia muda, dua penyebab utama kerusakan ginjal seiring waktu.

Karena itu, Dr. Rosnawati menyarankan wanita, terutama yang memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit autoimun, atau riwayat komplikasi kehamilan, untuk rutin melakukan pemeriksaan. Tiga tes sederhana dapat membantu deteksi dini: tes darah untuk fungsi ginjal, tes urine untuk melihat protein, serta pemeriksaan tekanan darah.

Protein dalam urine adalah salah satu tanda awal kerusakan ginjal. Deteksi dini mengubah segalanya karena ada banyak pilihan pengobatan yang tersedia. “Tujuan kami adalah pelestarian. Jika kita dapat mengurangi penurunan fungsi ginjal dari 10 persen per tahun menjadi hanya 2 persen, banyak pasien mungkin tidak akan pernah membutuhkan dialisis,” pungkasnya.

Perhatian khusus pada wanita penting karena faktor fisiologis dan kondisi penyakit yang lebih sering memengaruhi mereka. Dengan pemantauan rutin dan tes sederhana, risiko kerusakan ginjal dapat diminimalkan. (sao/kna)

CKDgejala ginjaldiabeteshipertensiLupusPCOSkehamilanprotein urine

Komentar

Memuat komentar...