Daging Kambing Tidak Selalu Menyebabkan Kolesterol Tinggi

Wulan M. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 127 dibaca
Bisik.id
Daging Kambing Tidak Selalu Menyebabkan Kolesterol Tinggi

Gambar atau konten salah?

Idul Adha menjadi momen yang penuh kebahagiaan, namun bagi banyak orang, rasa takut akan kolesterol tinggi dan tekanan darah yang naik juga ikut hadir. Saat keluarga berkumpul, sate kambing dan gulai menjadi andalan, namun muncul pertanyaan: daging kambing memang memicu kolesterol tinggi?

Anggapan ini sudah lama tersebar di masyarakat. Banyak yang mengira bahwa daging kambing secara otomatis menyebabkan hipertensi atau kolesterol tinggi. Namun, kenyataannya lebih kompleks. Sejumlah peneliti dan praktisi kesehatan menunjukkan bahwa kandungan kolesterol daging kambing bisa lebih rendah dibandingkan daging sapi atau ayam.

Menurut Abu Bakar, pakar keperawatan dari Universitas Airlangga, “Pertama, kita harus tahu dulu penyebab dari hipertensi itu apa. Satu, makanan tinggi garam, dua, makanan tinggi kolesterol, tiga, makanan yang mengandung kedua zat ini.” Ia menegaskan bahwa yang penting bukan jenis makanan, melainkan zat yang terkandung dan cara pengolahannya.

Penelitian terbaru yang dikutip oleh Abu Bakar menunjukkan bahwa kadar kolesterol dalam daging kambing lebih rendah dibanding daging sapi. Bahkan, dalam beberapa kondisi, kolesterol daging ayam bisa lebih tinggi dibanding daging kambing. Dengan demikian, daging kambing masih tergolong aman asalkan porsinya tidak berlebihan dan diolah dengan cara yang tepat.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Ronny Rachman Noor, menambahkan bahwa daging kambing tidak secara otomatis menyebabkan hipertensi. Ia mengatakan, “Sebagaimana halnya dengan daging merah lainnya, daging kambing secara ilmiah tidak menjadi pemicu hipertensi. Namun, hal itu bisa disebabkan karena cara penyajian dan konsumsi yang terkait erat dengan hipertensi.”

Ronny menjelaskan bahwa daging kambing, atau chevon, dikenal memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibanding beberapa jenis daging merah lainnya. Selain itu, daging kambing kaya protein dan zat besi yang baik untuk tubuh. Kualitas nutrisi daging kambing juga dipengaruhi cara ternak dipelihara. Kambing yang digembalakan secara alami biasanya menghasilkan daging dengan kadar lemak lebih rendah dibanding sistem penggemukan intensif.

Walaupun daging kambing tidak secara langsung memicu hipertensi, banyak orang merasa tekanan darahnya naik setelah makan sate atau gulai kambing. Penyebabnya sering kali berasal dari bahan tambahan dalam proses memasak. Abu Bakar menjelaskan, “Penggunaan garam, kecap tinggi natrium, santan, hingga minyak berlebih dalam olahan daging kambing justru lebih berisiko memicu kenaikan tekanan darah dan kolesterol.”

Ia menekankan pentingnya memeriksa kecap yang digunakan. “Kalau mau buat sate kambing, ya lihat kecapnya juga tinggi natrium atau tidak. Kalau kecapnya tinggi natrium, yang menyebabkan tekanan darah tinggi bisa jadi kecapnya bukan dagingnya,” ujarnya. Dengan kata lain, menu pendamping dan teknik pengolahan daging kambing memiliki pengaruh besar terhadap dampak kesehatan makanan tersebut.

Menurut Mochammad Rizal, ahli gizi dari Indonesia Sport Nutritionist Association, penderita kolesterol tetap boleh mengonsumsi daging kambing, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyebut, “Kalau ada riwayat kolesterol, konsumsi daging 2-3 kali per minggu sudah cukup. Respons tiap orang berbeda, sehingga tetap disarankan rajin kontrol untuk memantau kesehatan.”

Untuk orang sehat, konsumsi daging kambing masih aman sekitar satu porsi per hari dengan ukuran kurang lebih sebesar telapak tangan. Sedangkan, bagi penderita kolesterol atau hipertensi, penting untuk mengatur frekuensi konsumsi dan menghindari makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Abu Bakar bahkan menyarankan konsumsi sate kambing maksimal sekitar tujuh tusuk dalam sehari, lalu diberi jeda beberapa hari sebelum kembali mengonsumsi olahan favorit banyak orang tersebut.

Berikut beberapa cara aman mengonsumsi daging kambing bagi penderita kolesterol: pilih bagian daging kambing yang rendah lemak, batasi konsumsi santan dan garam, dan padukan dengan sayur serta air putih yang cukup. Hindari bagian yang memiliki banyak lemak atau jeroan karena kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi. Hindari olahan seperti gulai atau tongseng berlebih karena cenderung lebih tinggi lemak dibandingkan sate. Kurangi garam dan kecap karena bisa memicu tekanan darah meningkat, terutama pada penderita hipertensi. Perbanyak konsumsi sayur dan air putih karena dapat membuat pencernaan lebih seimbang setelah makan daging.

Di masyarakat, daging kambing sering dianggap musuh bagi penderita kolesterol dan darah tinggi. Padahal, berbagai penelitian dan penjelasan ahli menunjukkan bahwa masalah utamanya lebih sering berasal dari pola makan keseluruhan dan gaya hidup. Konsumsi makanan tinggi gula, gorengan, santan, kurang olahraga, hingga kebiasaan merokok juga berpengaruh besar terhadap naiknya kolesterol dan tekanan darah. Karena itu, penting memahami tidak ada satu jenis makanan yang langsung menjadi penyebab tunggal kolesterol tinggi jika dikonsumsi dalam batas wajar.

Untuk penderita kolesterol, batas aman konsumsi daging kambing adalah maksimal 50‑100 gram (setara 5‑10 tusuk sate) per hari, dan sebaiknya tidak lebih dari 2‑3 porsi per minggu. Hindari bagian jeroan karena tinggi kandungan lemak jenuh dan kolesterol. Dengan mengikuti pedoman ini, penderita kolesterol dapat tetap menikmati daging kambing tanpa menambah risiko kesehatan.

Secara keseluruhan, daging kambing tidak secara otomatis menjadi penyebab kolesterol tinggi. Faktor utama adalah cara pengolahan, tambahan garam, kecap, dan santan. Dengan memilih bagian rendah lemak, membatasi garam, dan menyeimbangkan dengan sayur serta air putih, daging kambing dapat menjadi bagian dari diet sehat, bahkan bagi penderita kolesterol. Kuncinya adalah moderasi dan perhatian pada bahan tambahan yang digunakan dalam masakan.

daging kambingkolesterolhipertensigaramkecapsantandiet sehat

Komentar

Memuat komentar...