Danantara Minta Telkom Konsolidasi Aset Fiber BUMN Lain
Gambar atau konten salah?
Telkom menerima arahan dari Danantara untuk melakukan konsolidasi semua aset serat optik (fiber) milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya. Rencana perusahaan untuk mencari mitra bagi Infranexia juga ditunda hingga tahun 2027.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, di kantor Telkom, Jakarta, pada (11/03/2026) malam. Menurut Dian, langkah ini merupakan bagian dari strategi TLKM 30 yang bertujuan memperkuat tata kelola perusahaan serta fundamental bisnis sepanjang tahun 2026.
"Ada arahan dari Danantara, sedang dikaji agar aset fiber di BUMN lain bisa dikonsolidasikan," ujar Dian.
Ketika ditanya mengenai aset fiber BUMN yang dimaksud, Dian mengonfirmasi bahwa salah satunya adalah milik PLN, dan ada satu BUMN lain yang terlibat. Proses konsolidasi ini sedang dalam tahap kajian.
Terkait strategi TLKM 30, Dian menjelaskan bahwa Infranexia masih akan melanjutkan rencana untuk membuka nilai asetnya (unlocking value). Caranya adalah dengan menggandeng investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, eksekusi rencana ini kemungkinan baru akan dilakukan pada tahun 2027.
"Fokus mencari mitra bukan tahun ini. Mungkin tahun depan. Fokus sekarang bagaimana Infranexia bisa menjadi perusahaan penyedia infrastruktur fiber yang kuat," jelas Dian.
Dian mengingatkan kembali empat pilar utama bisnis Telkom dalam kerangka TLKM 30. Pilar pertama adalah bisnis untuk konsumen (B2C) yang mencakup layanan seluler dan internet rumah melalui Telkomsel. Pilar kedua adalah infrastruktur B2B, meliputi menara, fiber optik, pusat data (data center), hingga satelit.
Pilar ketiga adalah layanan B2B internasional melalui Telin. Sementara pilar keempat adalah layanan teknologi informasi (IT Services) untuk segmen B2B.
Lebih lanjut, Dian menyatakan bahwa Danantara meminta Telkom untuk melakukan pembenahan dan memastikan laporan keuangan sesuai standar terbaru. Kepatuhan regulasi sangat penting mengingat Telkom tercatat di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange.
"Sebagai bentuk kepatuhan atas arahan Danantara, laporan harus semakin akurat dan transparan. TLKM 30 adalah upaya perbaikan tata kelola agar dipercaya oleh investor," pungkas Dian.
Restrukturisasi Anak Usaha Menjadi 14 Entitas
Telkom juga memaparkan rencana penataan dan penyederhanaan struktur anak usahanya. Salah satu aksi terbaru adalah divestasi saham TelkomMetra atas kepemilikan Admedika beserta anak usahanya, TelkoMedika, kepada Fullerton Health.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, memperbarui bahwa jumlah anak usaha akan dikurangi dari sekitar 60 menjadi hanya 14 perusahaan. Sebelumnya sempat disebutkan target menjadi 20 perusahaan.
"Kita akan kurangi menjadi 14 perusahaan. Jadi ada sekitar 50 aksi korporasi yang dilakukan. Kami sebisa mungkin melakukan divestasi, seperti pada kasus AdMedika dan TelkoMedika. Ada juga yang ditutup, digabung (merger), atau dilakukan transfer bisnis. Itu beberapa bentuk aksi korporasi yang dilakukan," kata Arthur.
Perubahan struktur ini menandakan upaya signifikan dalam efisiensi dan fokus bisnis inti Telkom.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Telkomsel dan SiCepat Luncurkan Paket Data Khusus Kurir
XLSmart Gelar Bravo 500 Summit 2026, Digital di Indonesia
Telkomsel Perluas Jaringan 5G ke 107 Kota, 2026 Lebih Cepat
Puskesmas Ohoiel Raih Penghargaan Digitalisasi Layanan Kesehatan
SMA N1 Bintan Pesisir Unggul Jadi Sekolah Teladan Digital
Pos Marinir Pulau Fanildo Pemenang Konektivitas Digital 2026
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
