Demam Olahraga Viral: Bahaya Saraf Kejepit dan Cara Aman

Kartika D. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Demam Olahraga Viral: Bahaya Saraf Kejepit dan Cara Aman

Gambar atau konten salah?

Fenomena “demam olahraga viral” kini menjadi topik hangat di media sosial. Mulai dari lari maraton dadakan, kelas HIIT ekstrem, hingga challenge workout intens, semua tampak menarik dan menyehatkan.

Dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, seorang spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Lamina, menekankan pentingnya pemahaman kondisi tubuh dan teknik yang benar sebelum mengikuti tren tersebut. Ia mengatakan hal itu dapat meminimalisir risiko cedera serius di tulang belakang.

“Banyak orang tergoda mengikuti tren tanpa memahami kondisi tubuh atau teknik yang benar. Akibatnya, bukannya semakin sehat, justru berujung pada saraf kejepit,” kata dr. Mahdian dalam keterangan tertulis, Sabtu, 01 Mei 2026.

Berbagai olahraga yang sedang populer memang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya saraf kejepit jika dilakukan tanpa persiapan yang matang. Latihan seperti HIIT dengan gerakan cepat dan intens dalam waktu singkat dapat memberi tekanan besar pada tulang belakang, terutama bila teknik tidak tepat.

Aktivitas angkat beban berat juga berpotensi menekan saraf di area leher dan pinggang jika postur tubuh tidak dijaga dengan benar. Selain itu, tren lari jarak jauh sering membuat pemula memaksakan diri tanpa latihan bertahap, sehingga terjadi tekanan berulang pada tulang belakang.

“Pada dasarnya, bukan jenis olahraganya yang berbahaya, melainkan kesiapan tubuh, teknik, dan pengaturan intensitas yang sering diabaikan,” jelasnya.

Fenomena olahraga viral sering kali mendorong seseorang berlatih tanpa pemahaman yang cukup, sehingga justru memicu cedera. Salah satu penyebab utamanya adalah overtraining, yaitu kondisi ketika tubuh dipaksa beradaptasi terlalu cepat tanpa waktu istirahat yang memadai.

“Kurangnya pemanasan dan pendinginan juga membuat otot menjadi kaku, sehingga lebih rentan cedera,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa postur tubuh yang buruk saat berolahraga, terutama pada posisi tulang belakang yang tidak netral, turut memperbesar risiko saraf terjepit. Kebiasaan memaksakan diri mengikuti tren tanpa mengenal batas kemampuan tubuh sering menjadi pemicu utama.

“Kondisi saraf kejepit biasanya ditandai dengan nyeri yang menjalar, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot, dan jika dibiarkan dapat berkembang menjadi lebih serius,” ungkapnya.

Untuk mencegah saraf kejepit, dr. Mahdian menyarankan langkah-langkah berikut: mulailah latihan secara bertahap, sehingga tubuh memiliki waktu beradaptasi dengan peningkatan intensitas. Teknik yang benar juga harus menjadi prioritas, sehingga penting untuk belajar dari sumber terpercaya atau didampingi tenaga profesional.

“Pemanasan dan pendinginan tidak boleh dilewatkan karena membantu mempersiapkan otot dan sendi sekaligus mengurangi risiko cedera,” jelasnya.

Menjaga postur tubuh tetap ideal selama berolahraga sangat penting untuk melindungi tulang belakang dari tekanan berlebih. Tubuh juga membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar proses pemulihan berjalan optimal dan terhindar dari cedera akibat penggunaan berlebihan.

“Yang tidak kalah penting, selalu peka terhadap sinyal tubuh, karena rasa nyeri bukan tanda kemajuan, melainkan peringatan untuk berhenti.”

“Dengan pendekatan yang tepat, risiko saraf kejepit dapat diminimalkan tanpa harus meninggalkan gaya hidup aktif,” ungkapnya.

Jika Anda mulai merasakan nyeri pinggang, leher kaku, atau kesemutan setelah mengikuti tren olahraga viral, jangan menunda konsultasi dan pemeriksaan ke dokter. Penanganan dini dapat mencegah kondisi semakin parah.

Rumah Sakit Lamina menghadirkan solusi modern untuk saraf kejepit dengan teknologi minimal invasif dari Jerman, yaitu teknologi Joimax. Metode ini memungkinkan penanganan saraf kejepit tanpa operasi besar, tanpa sayatan besar, dan dengan waktu pemulihan yang jauh lebih cepat.

Keunggulan penanganan ini antara lain: hanya satu titik kecil untuk jalan masuknya alat endoskopi, risiko komplikasi lebih kecil, waktu tindakan hanya 30‑45 menit, pasien bisa kembali beraktivitas lebih cepat, dan prosedur dilakukan oleh tim dokter berpengalaman.

Dengan pendekatan yang lebih aman dan canggih, pasien tidak perlu lagi takut menjalani pengobatan saraf kejepit.

Jika mengalami gejala saraf kejepit, segera konsultasikan ke Rumah Sakit Lamina dan dapatkan penanganan yang tepat, cepat, dan modern tanpa operasi. Kesehatan tetap nomor satu, ikuti tren dengan bijak, bukan sekadar ikut‑ikutan.

Fakta-fakta di atas menegaskan bahwa olahraga viral dapat membawa manfaat, namun juga risiko jika tidak dilakukan dengan benar. Memahami tubuh, memegang teknik yang tepat, dan tidak memaksakan diri adalah kunci utama untuk tetap sehat dalam berolahraga.

demam olahraga viralsaraf kejepitHIITpostur tubuhpemanasanovertrainingteknik olahraga

Komentar

Memuat komentar...