Desa Pocong Bangkalan: Dari Mitologi ke Sejarah dan Mitos

Bambang W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 154 dibaca
Bisik.id
Desa Pocong Bangkalan: Dari Mitologi ke Sejarah dan Mitos

Gambar atau konten salah?

Di Jawa Timur, kabar tentang pocong yang muncul di media sosial menjadi topik hangat. Mulai dari video prank di Lamongan, poster hantu di Nganjuk, hingga video hoaks di Sidoarjo, semua berputar di TikTok. Namun di balik kebisingan itu, ada satu tempat nyata yang tak jarang disebut sebagai Desa Pocong, terletak di Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan.

Orang yang baru dengar nama Desa Pocong biasanya langsung mengaitkannya dengan cerita horor. Istilah pocong sendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mayat berbalut kain kafan. Meski begitu, desa ini bukan sekadar nama fantasi; itu adalah pemukiman yang sudah ada sejak lama di Pulau Madura.

Sejarah desa ini sangat beragam. Ada yang mengatakan asal nama berasal dari pengalaman mistis leluhur. Menurut cerita yang beredar, daerah ini dulu adalah hutan belantara yang sangat angker. Ketika hutan itu dibuka dan dihuni, gangguan supranatural mulai muncul.

Konon, selama 40 hari berturut-turut, penduduk pertama di desa itu terus-menerus ditakuti oleh penampakan pocong setiap malam. Mereka pun menaruh jimat dan menutup pintu rumah rapat-rapat. “Ya karena seringnya warga yang dihantui penampakan pocong itulah, yang membuat desa ini dinamakan Desa Pocong,” tutur Masduki, Ketua BPD Pocong.

Masduki menambahkan, “Mulai dulu nama desa ini ya Desa Pocong. Hanya sejarahnya ini belum jelas dan masih simpang siur dengan beberapa versi.”

Ustaz Abdul Ghoni, tokoh dari Dusun Karang Anyar, mengonfirmasi bahwa lingkungan di sana memang penuh nuansa spiritual. “Kalau di sini itu memang banyak cerita mistiknya. Bukan hanya mitos pocong yang berkeliaran seperti cerita warga. Misteri hilangnya Kek Lesap yang sampai sekarang tidak diketahui di mana meninggalnya,” kata Ghoni kepada detikJatim.

Selain kisah hantu, ada kejadian lain di sekitar tahun 1970. Sumber mata air di Dusun Karang Buddul tiba-tiba meledak, membesar, dan memunculkan balok kayu raksasa. “Kalau pasnya itu saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kecil. Sumber (air) yang sebelumnya kecil itu menjadi besar dan keluar kayu balok besar seperti tiangnya kapal kayu besar itu. Dan di sebelahnya ada makam sesepuh yang keramat,” ungkap Ghoni.

Berbeda dari cerita mistis, Kepala Desa Pocong, Masturi, menyajikan versi sejarah yang lebih realistis. Ia menegaskan bahwa di desa ini ada puluhan petilasan kuno, salah satunya petilasan Ibu Nyai Ageng Dewi Maduretno di Dusun Karang Anyar.

Nyai Ageng Dewi Maduretno adalah selir Raja Cakraningrat IV, penguasa Kerajaan Madura Barat, sekaligus ibu dari Ke' Lesap. Ia dikenal memakai pakaian serba putih setiap hari. Karena penampilannya, masyarakat zaman dulu menjulukinya Nyai Pocong, yang kemudian diabadikan menjadi nama pemukiman itu. “Kalau menurut para sesepuh yang paham, di desa ini ada sekitar 40 makam bujuk (makam sesepuh) keramat. Salah satunya selir raja itu,” kata Masturi.

Masturi mengaku tidak pernah mendengar cerita seram tentang nama desa langsung dari kakeknya, mantan kepala desa yang menjabat selama 52 tahun. “Nama Pocong sendiri belum pernah tau langsung sejarahnya. Bahkan saya tidak pernah mendengar cerita tersebut langsung dari kakek saya yang sudah menjadi kepala desa selama 52 tahun, sebelum saya jadi kepala desa,” jelas Masturi.

Selain petilasan, desa ini juga memiliki surau bersejarah. “Ada langgar rajeh (surau besar) yang menurut kakek saya dibuat sebelum kakek saya lahir. Di surau tersebut terdapat tombak dan guci yang jika diminum air gucinya bisa kebal,” pungkas Masturi.

Di luar unsur mistis, ada juga teori bahwa nama Desa Pocong berasal dari salah pelafalan atau faktor geografis. Menurut Masduki, “Di versi lainnya, konon katanya dulu ada sebuah pohon pucang yang memunculkan sumber air di bawahnya. Dari nama pohon pucang inilah kemudian dibuat lah nama Desa Pocong.”

Ghoni menambahkan kemungkinan pergeseran fonetik dari kata “pancong,” istilah sebutan pasak atau tempat tambatan perahu kayu yang dulu banyak bertebaran di sepanjang sungai desa. “Kalau dulu saya masih melihat banyak pancong di sepanjang sungai ini. Bisa jadi Desa Pocong diambil dari kata pancong itu,” kata Ghoni.

Ia juga menyebutkan bahwa panjangnya aliran air dari sumber yang keluar dari pohon pucang sampai ke wilayah kota Bangkalan membuat pangkalnya disebut pocong. “Ada juga yang bilang, karena panjangnya aliran air dari sumber yang keluar dari pohon pocang yang sampai ke wilayah kota Bangkalan, sehingga pangkalnya disebut pocong,” imbuhnya.

Walau banyak cerita mistis dan sejarah yang berlapis, kehidupan warga Desa Pocong saat ini tetap tenang. Mereka menjalani aktivitas sehari‑hari tanpa rasa takut, menunjukkan bahwa nama yang menakutkan tidak selalu mencerminkan realitas di lapangan.

Dengan berbagai versi asal usul nama, mulai dari pengalaman mistis, petilasan kerajaan, hingga pergeseran fonetik, Desa Pocong tetap menjadi contoh bagaimana sejarah dan budaya lokal dapat memengaruhi persepsi masyarakat. Meskipun terdengar menakutkan, desa ini tetap menjadi tempat yang damai dan penuh kehidupan bagi penduduknya.

Desa PocongPocongMaduraHantuPetilasanSurauSungai

Komentar

Memuat komentar...