Dina Sidoarjo & Sukru Turki Nikah: Cinta LDR Jadi Harapan
Gambar atau konten salah?
Dina berasal dari Waru, Sidoarjo, dan kebiasaannya menonton drama Turki ternyata membawa kisah cinta yang tak terduga. Ia mulai belajar bahasa Turki sebagai cara mengisi waktu luang, dan lewat aplikasi belajar bahasa daring ia bertemu dengan Sukru, pemuda asal Turki.
Perkenalan mereka dimulai ketika Sukru mengirim pesan pertama. Komunikasi pun lancar, karena ia sudah cukup fasih berbahasa Indonesia—bahasa yang ia pelajari secara otodidak dari lagu-lagu Wali Band. Keterbukaan bahasa menjadi jembatan awal hubungan mereka.
Seperti hubungan jarak jauh pada umumnya, perjalanan cinta ini tidak selalu mulus. Perbedaan waktu dan kesibukan seringkali memicu kesalahpahaman. Dina mengaku sempat ragu melanjutkan hubungan tersebut. “Awalnya kami didera keraguan. Jarak yang membentang terlalu jauh, perbedaan kewarganegaraan, hingga rumitnya birokrasi pernikahan lintas negara sempat membuat langkah kami goyah,” kata Dina pada 22 April 2026.
Di tengah keraguan itu, Sukru menunjukkan keseriusannya. Ia terus meyakinkan Dina hingga akhirnya ia datang ke Indonesia untuk melamar. Janji itu akhirnya terwujud ketika ia tiba di Sidoarjo dan mengajukan pertanyaan pernikahan. “Awalnya sama-sama gak yakin bisa bersatu karena jarak yg terlampau jauh, dia bukan WNI, dan semua keriwehan yang harus siap dihadapi terkait administrasi dan dokumen dokumen, tapi dengan keseriusan dia semua masa-masa sulit bisa kami lewati,” beber Dina.
Meskipun mendapat restu keluarga, pasangan ini tak lepas dari komentar negatif orang sekitar. Menjelang pernikahan, berbagai keraguan dan komentar miring sempat mereka terima. Namun, keduanya memilih tetap fokus pada hubungan dan masa depan bersama, tanpa menggubris hal-hal yang dapat merusak kebahagiaan mereka.
Setelah menikah, Sukru mulai beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia. Ia mengalami sejumlah culture shock, salah satunya keberadaan cicak di dalam rumah yang terasa asing baginya. “Culture shock suami dia kaget karena sangat banyak cicak di Indonesia, dan suami juga kaget karena kebab di Indonesia kenapa variannya banyak sekali, ada isi jagung dan kenapa ada kebab manis juga,” lanjutnya.
Apabila dulu Sukru belajar bahasa Indonesia lewat lagu-lagu Wali Band, kini ia mulai merambah ke lagu-lagu Jawa dengan pelafalan masih kaku. Meski begitu, ia tampak sangat menikmati proses adaptasinya. “Saat LDR kami sering merindukan satu sama lain, saya sering mengucap seni çok özledim dan menurut saya kalimat itu terdengar sangat indah. Sementara menurut suami saya, beberapa kata bahasa jawa sangat sulit diucap tetapi dia sangat berkesan dengan lirik lirik lagu Denny Caknan, seperti kata tresnoku,” ujar perempuan asal Sidarjo itu.
Perjalanan Dina dan Sukru menjadi contoh bahwa cinta dapat melampaui batas geografis. Kalimat “Seni çok özledim” yang berarti “aku sangat merindukanmu,” dulu hanya terucap lewat layar ponsel, kini telah menjadi nyata dalam kehidupan mereka di Sidoarjo. Kisah ini menegaskan bahwa kesabaran, komunikasi, dan keseriusan dapat mengatasi jarak dan perbedaan budaya, membawa dua hati dari dua belahan dunia menjadi satu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
