Dokter 25 Tahun Meninggal Akibat Campak RSUD Pagelaran

Fandi R. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Dokter 25 Tahun Meninggal Akibat Campak RSUD Pagelaran

Gambar atau konten salah?

AMW, seorang dokter internship berusia 25 tahun, meninggal di RSUD Pagelaran setelah terpapar campak. Kasus ini menarik perhatian publik karena ia tetap bekerja meski sudah menunjukkan gejala.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, hasil penelusuran awal menunjukkan bahwa dokter tersebut kemungkinan terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret 2026, ketika gejala pertama kali muncul.

“Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret,” kata Andi dalam konferensi pers di Jakarta pada 30 Maret 2026.

Di 18 Maret 2026, AMW merasakan demam, flu, dan batuk. Ia meminta izin tidak berdinas dan diberi izin beristirahat. Namun, pada 19 hingga 21 Maret 2026, ia tetap masuk kerja dan menjalani dinas selama tiga hari berturut‑turut, termasuk menangani pasien campak karena merasa tubuh masih fit.

Kondisinya terus memburuk. Pada 21 Maret 2026 muncul ruam pada kulit, salah satu gejala khas campak. Meski begitu, ia tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak. Setelah itu, ia akhirnya mengajukan cuti karena kondisi kesehatannya terus menurun.

Di 24 Maret 2026, AMW mengirim pesan WhatsApp kepada rekan-rekannya bahwa dirinya terkena campak, disertai ruam di tubuh. Kondisinya terus memburuk dengan cepat.

Di 25 Maret 2026 pukul 22.00 WIB, ia dibawa ke IGD RS Cianjur oleh keluarga dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya. Saat tiba di rumah sakit, ia mengalami akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, serta saturasi oksigen sangat rendah, yakni 35 persen dan hanya meningkat menjadi 50 persen meski telah diberikan bantuan oksigen sungkup 15 liter per menit.

Di 26 Maret 2026 pukul 00.30 WIB, pasien dirujuk ke ruang ICU. Namun kondisinya tidak kunjung membaik. Pada pukul 08.15 WIB dilakukan tindakan intubasi. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal. Diagnosis akhir menunjukkan campak dengan komplikasi pada jantung dan otak.

Sehari setelahnya, pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis.

“Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 28 Maret 2026 dari Bio Farma kemudian mengonfirmasi bahwa pasien positif campak,” lapor Andi.

Andi menegaskan kasus ini menjadi pengingat penting bagi tenaga kesehatan. “Tenaga kesehatan yang sudah bergejala sebaiknya tidak bertugas terlebih dahulu untuk mencegah penularan dan risiko perburukan kondisi,” katanya.

Kasus AMW menyoroti pentingnya protokol kesehatan bagi tenaga medis. Ketika gejala muncul, berhenti bekerja dan segera mencari perawatan dapat mencegah penyebaran penyakit dan memperbaiki peluang kesembuhan. Penyakit campak tetap menjadi ancaman serius, terutama di lingkungan rumah sakit, di mana kontak dengan pasien rawat inap tinggi. Oleh karena itu, pelatihan dan kesadaran tentang protokol infeksi harus terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang.

campakAMWtenaga kesehatanprotokol kesehatanRSUD PagelaranICUBio Farma

Komentar

Memuat komentar...