Dolar Menguat, Rupiah Terendah Menekan Inflasi 2026

Maya K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Dolar Menguat, Rupiah Terendah Menekan Inflasi 2026

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus menguat, menekan rupiah ke level terendah. Pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, kurs rupiah berada di Rp 17.881 per US$. Para analis memperkirakan bahwa pekan depan nilai tukar bisa menembus Rp 18.000 per dolar.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa perubahan nilai tukar ini memiliki beberapa jalur dampak bagi perekonomian dalam negeri. “Pertama dari sektor perdagangan, di mana pelemahan rupiah ini akan mempengaruhi harga produk impor,” ujarnya.

Dengan rupiah yang melemah, harga barang dan bahan baku produk impor naik secara signifikan. Kenaikan ini dapat memicu inflasi, karena barang jadi menjadi lebih mahal. “Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti katakanlah kedelai dan sebagainya, itu kan pasti ikutan naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya itu impor. Pokoknya produk‑produk impor itu akan naik dan itu akan menyebabkan import inflation,” jelas Tauhid kepada detikcom, Sabtu (30/5/2026).

Selain itu, kenaikan nilai tukar dolar memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga. BI telah menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin, sehingga tingkat suku bunga sekarang berada di angka 5,25%. “Otomatis suku bunga di kita akan semakin tinggi, mulai merangkak naik terutama untuk suku bunga pinjaman. Misalnya untuk KPR semakin mahal, untuk kredit konsumtif semakin naik, termasuk juga untuk kredit investasi juga akan semakin mahal. Saya kira konsekuensinya seperti itu,” terangnya.

Untuk kelas menengah, ada beberapa hal yang perlu dihindari ketika dolar AS terus menguat dan rupiah melemah:

1. Belanja Terutama Produk Impor – Karena pelemahan rupiah, harga barang impor menjadi lebih tinggi. “Hindari ya karena harga‑harga barang yang tadi saya sebut naik berarti kan harus agak sedikit ketat gitu ya untuk barang‑barang yang konsumtif. Terutama barang‑barang yang berasal dari impor,” jelas Tauhid.

2. Kredit dengan Bunga Cicilan Floating – Peningkatan suku bunga BI membuat bunga cicilan ikut naik. “Kalau mereka punya cicilan ya cari cicilan‑cicilan yang katakanlah bunganya tuh fix gitu ya yang mereka bisa jangkau, jangan yang floating. Kalau ada floating ya berarti kenaikan tingkat suku bunga, dia ikut kena. Kalau dia harus cicil misalnya kendaraan, untuk rumah dan sebagainya, cari yang fix. Cari yang manageable bagi mereka gitu,” paparnya.

3. Mengandalkan Satu Sumber Pendapatan – Selain mengurangi pengeluaran, penting juga menambah pemasukan. “Sekarang kelas menengah sudah mulai mencari income tambahan apapun bentuknya. Karena kalau hanya mengendalikan konsumsi tapi pendapatan tidak ada upaya tambahan maka juga bisa kalah,” kata Tauhid. “Karena itu memang harus cari peluang‑peluang usaha atau income lainnya di sektor jasa dan sebagainya yang bisa menambah pendapatan mereka. Mungkin kelas menengah ini kan banyak yang juga ya tambahannya jadi ojol atau jualan dan sebagainya,” sambungnya.

Founder dan Direktur Eksekutif CELIOS (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa kelas menengah perlu menahan diri berbelanja, terutama barang‑barang impor. “Kelas menengah harus menyiapkan payung sebelum hujan. Beli yang perlu‑perlu saja untuk kebutuhan harian. Jangan tergoda promosi, apalagi barang‑barang impor,” tutur Bhima.

Dengan kurs yang terus menguat, tekanan inflasi impor dan kenaikan suku bunga menjadi dua faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat. Kelas menengah yang cerdas dapat menyesuaikan pola konsumsi, memilih pinjaman tetap, dan mencari sumber pendapatan tambahan untuk menahan dampak ekonomi yang lebih berat. Kenaikan suku bunga juga menambah biaya pinjaman, sehingga pengelolaan keuangan pribadi menjadi lebih penting. Sementara itu, kenaikan harga barang impor menambah beban pengeluaran rumah tangga, terutama bagi yang bergantung pada produk elektronik dan bahan makanan impor. Dalam situasi ini, strategi penghematan dan diversifikasi pendapatan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga di tengah ketidakpastian nilai tukar.

nilai tukar dolarrupiahinflasi imporsuku bunga BIkelas menengahpinjaman tetappendapatan tambahan

Komentar

Memuat komentar...