Emas Monas Ternyata 72 Kg, 28 Kg di Antaranya Sumbangan
Gambar atau konten salah?
Monumen Nasional, atau yang lebih akrab disapa Monas, berdiri kokoh di jantung Jakarta. Tingginya 115 meter. Di puncaknya, ada mahkota berbentuk nyala api yang disebut Lidah Api Kemerdekaan. Bagian ini yang paling ikonik.
Yang membuat puncak Monas istimewa bukan cuma bentuknya yang seperti kobaran api. Lapisan emas yang membalutnya juga jadi daya tarik tersendiri. Banyak yang mengira emas itu hanya ada di lidah api tersebut. Ternyata tidak.
Manajemen Monas pernah menjelaskan di Instagram bahwa banyak orang mengira emas di Monas hanya 50 kilogram yang ada di Lidah Api Kemerdekaan. Padahal, emas itu cuma melapisi bagian luar. Bahan utamanya adalah perunggu seberat 14,5 ton.
Emas juga ditempatkan di lokasi lain. Tepatnya di Ruang Kemerdekaan. Beratnya 22 kilogram. Emas itu menempel pada pintu gapura kemerdekaan, patung burung Garuda Pancasila, dan peta kepulauan Indonesia. Kalau ditotal, seluruh emas yang digunakan di Monas mencapai 72 kilogram.
Ruang Kemerdekaan sendiri berbentuk persegi. Dikelilingi amphitheater. Di dalamnya tersimpan empat simbol kemerdekaan bangsa Indonesia. Pengunjung bisa mendengar rekaman suara asli Bung Karno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Ada cerita menarik di balik emas yang menghiasi Monas. Sebanyak 28 kilogram emas di puncak Monas ternyata bukan berasal dari anggaran negara. Melansir dari situs Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, emas itu disumbangkan oleh Teuku Markam. Ia seorang filantropis asal Aceh.
Teuku Markam bukan orang sembarangan. Di era Orde Lama, ia termasuk salah satu orang terkaya. Selain menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), emas di Monas juga berasal dari sumbangannya.
Semasa hidup, Teuku Markam pernah bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Ia ikut bertempur di Medan Area, tepatnya di Tembung, Sumatera Utara. Awal mula ia bisa menyumbang emas karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno.
Pertemuan mereka terjadi di Bandung. Saat itu Teuku Markam masih menjadi ajudan Jenderal Gatot Subroto. Melalui Jenderal Gatot Subroto, ia diperkenalkan ke Soekarno. Presiden pertama RI itu sedang mencari pengusaha pribumi yang bisa mengatasi masalah perekonomian Indonesia.
Sepulang ke Aceh, Teuku Markam membangun bisnis lewat perusahaan bernama PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya pemerintah Orde Lama untuk mengelola pampasan perang. Pampasan perang adalah pembayaran yang secara paksa ditarik oleh negara pemenang perang dari negara yang kalah, sebagai ganti kerugian material.
Banyak orang mengira emas di Monas hanya 50 kilogram yang melapisi Lidah Api Kemerdekaan di Pelataran Puncak Monas. Tapi informasi dari manajemen Monas menyebutkan, emas itu hanya melapisi bagian luar. Material utamanya dari perunggu seberat 14,5 ton.
Emas juga ditemukan di tempat lain. Di Ruang Kemerdekaan, ada 22 kilogram emas. Emas itu menempel pada pintu gapura kemerdekaan, burung Garuda Pancasila, dan peta kepulauan Indonesia. Total emas di Monas mencapai 72 kilogram.
Ruang Kemerdekaan adalah ruangan persegi yang dikelilingi amphitheater. Di dalamnya tersimpan empat simbol kemerdekaan Indonesia. Pengunjung bisa mendengar suara asli Soekarno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Ada cerita menarik di balik emas di Monas. Seorang tokoh tercatat dalam sejarah sebagai penyumbang 28 kilogram emas untuk puncak Monas. Namanya Teuku Markam. Ia seorang filantropis asal Aceh.
Jadi, selain dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), emas di Monas juga berasal dari salah satu orang terkaya di era Orde Lama. Teuku Markam pernah bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Ia ikut bertempur di Medan Area, Tembung, Sumatera Utara.
Awal mula ia bisa menyumbang emas karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Pertemuan mereka terjadi di Bandung. Saat itu Teuku Markam masih menjadi ajudan Jenderal Gatot Subroto. Melalui Jenderal Gatot Subroto, ia diperkenalkan ke Soekarno yang sedang mencari pengusaha pribumi untuk mengatasi masalah perekonomian Indonesia.
Sepulang ke Aceh, Teuku Markam berhasil membangun bisnis lewat perusahaan bernama PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya pemerintah Orde Lama untuk mengelola pampasan perang. Pampasan perang adalah pembayaran yang secara paksa ditarik negara pemenang perang dari negara yang kalah, sebagai ganti kerugian material.
Jadi, total emas di Monas bukan 50 kilogram, melainkan 72 kilogram. Sebanyak 50 kilogram di Lidah Api Kemerdekaan dan 22 kilogram di Ruang Kemerdekaan. Dari jumlah itu, 28 kilogram di antaranya adalah sumbangan Teuku Markam, seorang pengusaha dan filantropis Aceh yang dekat dengan Presiden Soekarno.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PSSI Incar Pemain Diaspora, Tapi Klub Asing Tak Wajib Lepas
Kebakaran di RSUD Sukabumi, Api Hanya Bakar Rongsokan
Jalan Diponegoro Depan Gedung Sate Ditutup Mulai Hari Ini
Kajati Jabar Buka Suara soal SP3 Kasus Erwin
5 Pantai Terdekat dari Bandung, Tempuh 2,5 Jam
Pria Balet Pink di Perempatan Bandung, Camat Bertindak
Berita Terbaru
Emas Monas Ternyata 72 Kg, 28 Kg di Antaranya Sumbangan
KPK Sita Emas dan Valas Miliaran dari Bupati Sukoharjo
KPK Amankan Bupati Sukoharjo dalam OTT
Tangis Haru Iringi 76 Anak Masuk Sekolah Rakyat Ponorogo
Mayapada Healthcare Buka RS Kedelapan di Jakarta Timur
KPK Amankan Bupati Sukoharjo dalam OTT
Harga BBM Pertamina di Jatim Masih Sama Sejak Awal Juli
5 Alternatif Puncak Bogor, Lebih Sepi dan Murah
Dua Tim Muda Indonesia Berlaga di Gothia Cup 2026
Prancis Hajar Maroko 2-0, Mbappe Bicara