Embun Beku di Gunung Papandayan, Suhu Capai 1 Derajat Celcius
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, suhu udara belakangan ini terasa sangat dingin. Fenomena ini paling terlihat di kawasan Gunung Papandayan, di mana suhu udara dilaporkan turun hingga 1 derajat Celcius. Akibatnya, embun pagi yang membeku menjadi es mulai terlihat di beberapa titik.
Fenomena embun beku ini pertama kali diketahui publik setelah seorang warganet bernama Cepi Sopian membagikan momen tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @cepii_28. Dalam unggahannya, Cepi menunjukkan bagaimana rerumputan di kawasan Pondok Saladah, Gunung Papandayan, tertutup lapisan es tipis. "Esnya bro. Gais, ini tanggal 9 Juli di Gunung Papandayan," tulis Cepi dalam video yang diunggahnya.
Cepi, yang bekerja sebagai pemandu wisata atau tour guide, mengaku bahwa pemandangan seperti ini jarang ia temui. "Bisa dibilang, ini momen langka. Saya hampir setiap minggu naik ke Papandayan selama lebih dari dua tahun terakhir, baru kali ini melihat embun es," ujarnya. Ia menambahkan bahwa temuan es tersebut cukup menyita perhatiannya karena tidak biasa terjadi.
Pihak pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, yang diwakili oleh Aminta Kaban, membenarkan adanya fenomena embun beku ini. Namun, Aminta menjelaskan bahwa kemunculan es di Gunung Papandayan bukanlah peristiwa yang benar-benar baru. "Kemunculannya bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat suhu dingin. Memang sekarang sangat dingin, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya," kata Aminta.
Menurut Aminta, suhu normal di Gunung Papandayan pada hari-hari biasa biasanya berkisar antara 15 hingga 12 derajat Celcius. Namun, belakangan ini suhu bisa turun drastis hingga mencapai 1 derajat Celcius, terutama di pagi buta. "Biasanya setiap tahun sama, tapi tidak sedingin ini," pungkasnya.
Fenomena embun beku di Gunung Papandayan ini menarik perhatian karena menunjukkan perubahan suhu yang cukup ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun bukan pertama kalinya terjadi, momen seperti ini tetap dianggap langka oleh warga setempat, terutama bagi mereka yang sering mendaki gunung tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
