Finlandia Paling Bahagia Selama 9 Tahun Berturut‑Turut

Ningsih R. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Finlandia Paling Bahagia Selama 9 Tahun Berturut‑Turut

Gambar atau konten salah?

Finlandia kembali menempati posisi pertama dalam daftar negara paling bahagia di dunia pada tahun 2026, menambah rekor sembilan tahun berturut‑turut di puncak.

Laporan kebahagiaan dunia, yang didukung oleh Perserikatan Bangsa‑Bangsa, dirilis pada 18 Maret 2026 dan menilai 147 negara berdasarkan sejumlah indikator.

Indikator‑indikator tersebut meliputi dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan pribadi, kemurahan hati, dan persepsi terhadap korupsi. Setiap faktor diukur melalui survei yang melibatkan sekitar 100.000 responden di lebih dari 140 negara dan wilayah.

Para responden diminta menilai kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara Nordik secara konsisten unggul, berkat kombinasi tingkat kesejahteraan tinggi, distribusi pendapatan yang relatif merata, sistem perlindungan sosial yang kuat, serta harapan hidup yang panjang.

Di samping Finlandia, posisi teratas juga diisi oleh negara-negara Nordik lainnya: Islandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia. Keempat negara ini sering muncul di peringkat atas karena kebijakan sosial dan ekonomi yang seimbang.

Kosta Rika menonjol sebagai negara Amerika Latin dengan peringkat keempat, mencatat pencapaian tertinggi yang pernah didapatkan negara tersebut dalam sejarah laporan ini. Penilaian Kosta Rika didasarkan pada indikator utama seperti produk domestik bruto per kapita, harapan hidup, tingkat kemurahan hati, serta persepsi masyarakat terhadap kebebasan dan korupsi.

Laporan tahun ini juga menyoroti perubahan pola kesejahteraan, khususnya di kalangan anak muda. “Di Amerika Utara dan Eropa Barat, kaum muda jauh kurang bahagia dibandingkan 15 tahun yang lalu. Selama periode yang sama, penggunaan media sosial telah meningkat pesat,” demikian isi laporan tersebut.

Temuan lain menunjukkan bahwa durasi penggunaan media sosial berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan. Penggunaan dalam jumlah kurang dari satu jam per hari dikaitkan dengan kondisi yang lebih baik dibandingkan tidak menggunakan sama sekali. Sebaliknya, penggunaan berlebihan justru berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan.

Survei terhadap mahasiswa di Amerika Serikat menemukan kecenderungan kelelahan terhadap media sosial. “Mayoritas berharap platform media sosial tidak ada. Mereka menggunakannya karena orang lain menggunakannya, tetapi mereka lebih suka jika tidak ada yang menggunakannya,” lanjut laporan tersebut.

Menurut editor Forbes, Jan‑Emmanuel De Neve, dampak media sosial tidak bisa disederhanakan. “Bukti global menunjukkan dengan jelas bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kesejahteraan kita sangat bergantung pada platform apa yang kita gunakan, siapa yang menggunakannya, dan bagaimana caranya, serta berapa lama kita menggunakannya,” kata De Neve.

Keberlanjutan Finlandia di puncak daftar ini menegaskan bahwa kebahagiaan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi semata, tetapi juga oleh kuatnya sistem sosial dan kualitas hidup yang terjaga dalam jangka panjang.

Sungai Kemijoki di Finlandia. (Alexander Kuznetsov/Reuters)

  1. Finlandia
  2. Islandia
  3. Denmark
  4. Kosta Rika
  5. Swedia
  6. Norwegia
  7. Belanda
  8. Israel
  9. Luksemburg
  10. Swiss
  11. Selandia Baru
  12. Meksiko
  13. Irlandia
  14. Belgia
  15. Australia
  16. Kosovo
  17. Jerman
  18. Slovenia
  19. Austria
  20. Republik Ceko
  21. Uni Emirat Arab
  22. Arab Saudi
  23. Amerika Serikat
  24. Polandia
  25. Kanada

Keberhasilan Finlandia menegaskan pentingnya keseimbangan antara kebijakan sosial, distribusi pendapatan, dan harapan hidup. Di sisi lain, pergeseran pola kebahagiaan di kalangan muda menandai tantangan baru yang terkait dengan penggunaan media sosial. Perubahan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan negara tidak hanya diukur dari indikator ekonomi, tetapi juga dari bagaimana masyarakat berinteraksi dan merasakan kesejahteraan sehari‑hari.

FinlandiaKebahagiaanNegara NordikKosta RikaMedia SosialKesejahteraanKebijakan Sosial

Komentar

Memuat komentar...