Flyover Mayangkara: Tol Pertama dan Terpendek Surabaya
Gambar atau konten salah?
Flyover Mayangkara di Surabaya sering dipandang sebagai jembatan layang biasa yang memecah kemacetan di perlintasan kereta api Wonokromo. Namun, jembatan ini memiliki sejarah yang tak biasa: ia adalah jalan tol pertama di Surabaya sekaligus yang terpendek di Indonesia.
Menurut Kuncarsono Prasetyo, pengamat sejarah kota, flyover mulai beroperasi sekitar tahun 1981-an dan sempat mengenakan toll bagi penggunanya. Berbeda dengan sistem kartu elektronik (tap) yang kini umum, pada masa itu pengguna harus membayar tunai dan menerima karcis sebagai bukti pembayaran. Tarifnya berkisar antara Rp 100 hingga Rp 200 per kendaraan.
Keberadaan tol ini tidak berlangsung lama. Pada 1986 sistem berbayar dihapus setelah muncul protes masyarakat dan pertimbangan lainnya. Kuncarsono mengingatkan, “Dari '86 sudah tidak berbayar. Aku nggak tahu alasannya ya, apakah sudah balik modal atau ada protes atau bagaimana, tetapi faktanya kemudian kurang lebih 5 tahun jalan jembatan itu bebas,” ujar Kuncarsono pada 28 Mei 2026.
Penghargaan terhadap flyover ini tidak hanya terletak pada sejarahnya. Pembangunan flyover ini memakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara sebesar Rp 2,5 miliar. Dengan panjang hanya sekitar 500 meter, infrastruktur ini sempat disebut sebagai ruas tol terpendek di Indonesia. Seorang warga mengatakan, “Coba bisa kok diukur pakai Google Earth, kan bisa diukur itu panjangnya biar relevan menjadi yang terpendek, tol terpendek.”
Jalan Ahmad Yani, yang menjadi jalur flyover, dulu hanya memiliki satu sisi di bagian barat dengan lebar yang setara dengan jembatan layang. Seiring berkembangnya kota, jalur tersebut diperluas menjadi empat sisi, termasuk jalur lambat (frontage).
Nama Mayangkara memiliki makna sejarah. Nama tersebut merujuk pada kuda putih yang ditunggangi oleh Komandan Batalyon 503 Mayangkara, Letnan Kolonel R. Djarot Soebijantoro. Di dekat flyover, berdiri Monumen Patung Laskar Mayangkara sebagai penghormatan bagi perjuangan polisi pada masa kemerdekaan. Patung ini sudah berdiri jauh sebelum flyover dibangun, sehingga masyarakat secara alami menamai infrastruktur tersebut sesuai dengan ikon kawasan tersebut.
“Karena di situ sebelum ada (jembatan) itu sudah ada patung Laskar Mayangkara. Itu pejuang dari polisi. Sehingga ketika jembatan dibangun, orang-orang menyebut daerah situ memang Patung Mayangkara,” pungkas Kuncar.
Flyover Mayangkara kini menjadi contoh sederhana bagaimana infrastruktur dapat memegang peranan penting dalam sejarah kota sekaligus menjadi titik temu antara fungsi praktis dan nilai historis. Jembatan ini tetap berdiri, mengingatkan warga Surabaya akan masa lalu tol pertama yang pernah berbayar dan singkatnya menjadi tol terpendek di tanah air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
