Forum Ulama-Umara Probolinggo Tegaskan Sinergi Keamanan Kota
Gambar atau konten salah?
Selasa, 26 Mei 2026 menjadi hari penting bagi MUI dan pemerintah daerah di Probolinggo ketika forum Silaturahmi Daerah Ulama dan Umara digelar di Bale Hinggil. Tema yang dipilih, “Meneguhkan Sinergi Ulama dan Umara untuk Kota Probolinggo Aman dan Tentram,” menandai komitmen kedua belah pihak untuk menjaga stabilitas sosial dan keamanan.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Dewan Pertimbangan MUI, pengurus harian dan komisi MUI, serta pengurus MUI kecamatan di seluruh kota. Wali Kota Probolinggo Aminudin hadir bersama Penjabat Sekretaris Daerah Rey Suwigtyo, sementara Ketua DPRD Kota Probolinggo Sinta Dwi Laksmi Kusumawardani turut menandai kehadirannya. Ketua Umum MUI Kota Probolinggo M. Sulton mengambil alih panggung untuk menyampaikan pesan penting.
MUI akan senantiasa istikamah menegakkan amar makruf nahi munkar dengan memberikan masukan dan saran konstruktif bagi kebijakan pemerintah agar membawa kemanfaatan dan kemaslahatan untuk umat dan bangsa, tegas M. Sulton pada kesempatan tersebut. Kata-katanya menegaskan bahwa MUI bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan mitra strategis pemerintah dalam menjaga ketenteraman publik.
Selanjutnya, Benny Prasetya dari Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI memaparkan hasil survei persepsi masyarakat tentang kejahatan jalanan atau begal di kota. Indeks persepsi keamanan berada di angka 3,57 dari skala 5, yang menandai kategori sedang menuju tinggi. Meskipun demikian, MUI menilai bahwa tingkat kekhawatiran masih tinggi, khususnya bagi yang melintas sendirian di jalan sepi pada malam hari.
Masyarakat masih menyimpan kecemasan terhadap potensi kejahatan jalanan. Karena itu diperlukan langkah nyata dan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, ungkap Benny saat memaparkan data tersebut. Ia menekankan bahwa keamanan tidak bisa hanya diukur angka, melainkan juga perasaan aman yang dirasakan warga.
Berbagai rekomendasi konkret disampaikan oleh MUI Kota Probolinggo, mulai dari peningkatan penerangan jalan di kawasan rawan, patroli rutin malam hari, pengawasan intensif di titik rawan kriminalitas, hingga penguatan edukasi kewaspadaan lingkungan dan partisipasi warga. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa aman di kalangan masyarakat.
Forum dialog dipandu oleh Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo Ahmad Hudri, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga harmoni sosial di tengah dinamika perkotaan. Ia menegaskan bahwa sinergi ulama dan umara harus melampaui seremonial, melainkan menghasilkan tindakan nyata yang dapat menciptakan kota yang aman, religius, harmonis, dan berkeadaban.
Dengan langkah-langkah yang diusulkan, MUI berharap hubungan antara ulama dan pemerintah daerah dapat memperkuat upaya menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di Probolinggo. Kegiatan ini menjadi contoh konkret bagaimana lembaga keagamaan dan pemerintah dapat bekerja bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua warga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
