Garuda Tembus ARA, Harga Saham Naik 21,9% di Bursa Pasar
Gambar atau konten salah?
Garuda Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada pembukaan pasar sahamnya, menembus hampir batas Auto Reject Atas (ARA) pada 26 Maret 2024. Pada pukul 09.35 WIB, data perdagangan menunjukkan saham perusahaan naik 21,92 % mencapai Rp 89 per lembar. Di awal sesi, harga sempat mencapai Rp 96 per lembar.
Volume perdagangan mencapai 769,84 juta lembar dengan nilai transaksi Rp 71,80 miliar. Frekuensi perdagangan tercatat 18 510 kali sejak pembukaan. Garuda Indonesia kini keluar dari Full Call Auction (FCA), papan pemantauan khusus yang sebelumnya dipakai karena ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.
Menurut laporan keuangan tahun 2025, total ekuitas perusahaan sebesar US$ 91,91 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun hingga akhir Desember 2025. Namun, perusahaan mencatat kerugian bersih US$ 319,39 juta atau Rp 5,39 triliun sepanjang tahun 2025, meningkat dibandingkan kerugian US$ 69,77 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan usaha Garuda Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$ 3,21 miliar atau Rp 54,22 triliun, turun dari US$ 3,41 miliar atau Rp 57,60 triliun pada tahun 2024. Pendapatan berkat penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,14 miliar, penerbangan tidak berjadwal US$ 340,87 juta, dan pendapatan lain-lain US$ 361,05 juta.
Pengeluaran usaha total tercatat US$ 3,10 miliar pada tahun 2025. Beban operasional penerbangan memegang peranan dominan, mencapai US$ 1,54 miliar. Beban pemeliharaan dan perbaikan sebesar US$ 661,36 juta, sedangkan beban kendaraan dan pelayanan penumpang masing-masing US$ 249,14 juta dan US$ 216,35 juta.
Penghentian status FCA menandai perubahan signifikan dalam likuiditas saham Garuda. Meskipun harga saham meningkat tajam pada pembukaan, kerugian bersih yang meluas menunjukkan tekanan finansial yang masih harus diatasi. Kinerja pendapatan dan beban yang terperinci memberi gambaran tentang struktur biaya dan pendapatan, menyoroti ketergantungan pada penerbangan berjadwal dan tantangan dalam mengelola biaya operasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi