Gempa Jember M4,8 26 Mei: Getaran di Jatim hingga Bali

Yanto K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Gempa Jember M4,8 26 Mei: Getaran di Jatim hingga Bali

Gambar atau konten salah?

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1, kemudian diperbarui menjadi M 4,8, mengguncang wilayah tenggara Kabupaten Jember pada 26 Mei 2026 sore. Getaran dirasakan di banyak daerah Jawa Timur hingga Bali, bahkan mengganggu perjalanan kereta api di Banyuwangi.

Menurut informasi awal BMKG, gempa terjadi sekitar pukul 15.39 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 93 kilometer arah tenggara Jember, pada kedalaman 10 kilometer. BMKG kemudian memperbarui data: magnitudo menjadi M 4,8, episenter di laut sekitar 99 kilometer arah tenggara Jember, kedalaman 14 kilometer.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menulis: “Hasil analisis menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,07° LS ; 113,82° BT, pada kedalaman 14 km.” Ia menjelaskan bahwa gempa tidak dipicu aktivitas sesar di permukaan, melainkan akibat deformasi batuan di dalam lempeng tektonik. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman, gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi batuan dalam lempeng. Mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser (strike-slip).

Getaran gempa dirasakan cukup kuat di Jember, dengan intensitas IV MMI. Banyak orang merasakan guncangan di dalam rumah pada siang hari. Di Banyuwangi, intensitas III-IV MMI; di Bondowoso, Malang, Kuta, dan Kuta Selatan intensitas III MMI. Denpasar mencatat II-III MMI, sementara Blitar dan Trenggalek merasakan getaran lebih lemah pada skala II MMI.

BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami maupun gempa susulan. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” tegas Wijayanto. Kepala Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, menambahkan bahwa hingga pukul 15.55 WIB, tidak ada potensi gempa susulan atau aftershock. “Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan,” ungkapnya.

Getaran yang cukup keras membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Di Banyuwangi, gempa dirasakan di beberapa kecamatan mulai Banyuwangi Kota, Genteng, Glenmor hingga Kalibaru. Warga bernama Chofi mengaku langsung keluar rumah setelah merasakan guncangan. “Kaget, pas enak-enak duduk bergoyang dan saya langsung sadar kalau itu gempa. Langsung lari keluar (rumah),” terang Chofi.

Di Lumajang, warga merasakan getaran meski hanya berlangsung beberapa detik. Seperti yang dirasakan warga di Kecamatan Yosowilangun. Salah satunya, Heni, warga Desa Darungan, menyebut merasakan guncangan meski singkat. “Gempa tadi sempat dirasakan warga meskipun beberapa detik,” ujar Heni.

Kesaksian serupa datang dari warga Ambulu, Jember, bernama Rasya. Ia mengaku mendengar suara dari atap rumah sebelum guncangan terasa. “Waktu itu jam 15.39 WIB, kalau nggak salah, rasanya kayak ada goyangan tapi sedikit, dari atas rumah itu ada bunyi 'kresek kresek', baru rumah itu bergoyang sebentar. Syukur alhamdulillah tidak ada kerusakan cuma kotoran dari atap rumah itu jatuh,” kata Rasya.

Selain dirasakan di berbagai wilayah, gangguan akibat gempa Jember juga sempat terjadi pada operasional kereta api di Daop 9 Jember. PT KAI menghentikan sementara sejumlah perjalanan KA untuk memastikan kondisi jalur aman pascagempa. Sesaat setelah gempa, Pusdalopka Daop 9 Jember segera melakukan konfirmasi ke seluruh petugas stasiun, mulai wilayah Pasuruan sampai Ketapang, untuk memastikan kondisi lintas aman, ujar Manager Hukum dan Humas PT KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro.

KA Sangkuriang relasi Ketapang-Bandung dan KA Pandanwangi relasi Jember-Ketapang sempat berhenti luar biasa (BLB) di Stasiun Kalisetail, Banyuwangi. Setelah pemeriksaan jalur rel dan fasilitas operasional, perjalanan kereta kembali normal sekitar pukul 16.10 WIB. Hasil pemeriksaan menunjukkan jalur rel maupun bangunan stasiun di wilayah Daop 9 Jember dalam kondisi aman dan tidak ada kerusakan yang mengganggu perjalanan kereta api, kata Cahyo. Penghentian sementara tersebut menyebabkan keterlambatan sekitar 10 menit pada perjalanan KA Sangkuriang dan KA Pandanwangi. Cahyo menegaskan pemeriksaan jalur usai gempa merupakan prosedur standar yang wajib dilakukan PT KAI demi menjamin keselamatan perjalanan kereta api.

Meski beberapa warga mengaku gempa cukup terasa, dan gempa membuat perjalanan kereta terhenti, BPBD Jember memastikan hingga kemarin sore belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa. Dampak yang terjadi sejauh ini warga merasakan getaran oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan, dan sejumlah benda bergoyang, kata Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo.

Gempa ini menegaskan bahwa aktivitas tektonik di wilayah Jawa Timur tetap aktif. Meskipun tidak menimbulkan tsunami atau kerusakan struktural, gempa ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Masyarakat di daerah rawan gempa diharapkan tetap waspada, mempersiapkan rencana evakuasi, dan mengikuti petunjuk resmi dari pihak berwenang. Dengan prosedur standar yang diikuti oleh BMKG dan PT KAI, potensi bahaya dapat diminimalkan, menjaga keamanan dan kenyamanan warga serta pelaku transportasi.

Gempa BumiJemberBMKGKereta ApiTsunamiTektonikKesiapsiagaan

Komentar

Memuat komentar...