Gerindra Tegaskan: Kunjungan Prabowo ke Luar Negeri

Eko P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 45 dibaca
Bisik.id
Gerindra Tegaskan: Kunjungan Prabowo ke Luar Negeri

Gambar atau konten salah?

Sugiat Santoso, juru bicara Partai Gerindra, menanggapi kritik yang disampaikan oleh diplomat senior Dino Pati Djalal tentang intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Sugiat, langkah diplomasi yang diambil oleh Prabowo Subianto merupakan strategi penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.

Ia menghormati pandangan Dino, namun menilai kondisi global saat ini menuntut pendekatan berbeda dibanding masa lalu. Selasa, 02 Juni 2026, Sugiat mengungkapkan pandangannya.

"Kami menghormati pandangan Pak Dino sebagai diplomat senior. Namun, kita harus melihat konstelasi global hari ini yang sedang tidak baik-baik saja. Di tengah ketegangan geopolitik dunia, kehadiran Pak Prabowo di panggung internasional bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan langkah proaktif untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tapi ikut mewarnai arah kebijakan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dalam negeri," ujar Sugiat, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI.

Ia menekankan bahwa lanskap hubungan internasional telah berubah, sehingga diplomasi tidak lagi dapat dijalankan hanya melalui pendekatan konvensional.

"Kita harus memahami bahwa lanskap global hari ini sudah berubah total. Kritik Pak Dino mungkin lahir dari perspektif diplomasi konvensional era lama. Namun di era seperti sekarang ini, kebijakan luar negeri tidak bisa lagi dijalankan dari balik meja penasihat atau sekadar menanti laporan di menara gading. Pak Prabowo sedang mempraktikkan apa yang disebut peta jalan pengaruh. Kehadiran fisik, jabat tangan langsung, dan dialog tatap muka antar-pemimpin negara adalah mata uang tertinggi dalam diplomasi modern," tambahnya.

Sugiat menegaskan bahwa tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto tidak terlepas dari meningkatnya peran Indonesia di tingkat internasional.

"Mengapa kunjungan luar negeri ini begitu intens? Jawabannya sederhana: karena dunia yang meminta kehadiran Indonesia. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, Indonesia tidak lagi memosisikan diri sebagai objek yang pasif, melainkan subjek yang menentukan," ujarnya.

Ia menilai Presiden Prabowo Subianto membawa posisi tawar yang kuat sebagai pemimpin negara dengan potensi ekonomi besar, sekaligus representasi negara-negara berkembang atau Global South.

"Saat Pak Prabowo berkunjung, beliau membawa posisi tawar yang besar sebagai raksasa ekonomi baru, pemimpin Global South, dan jangkar stabilitas Asia Tenggara. Jadi, mari kita ubah cara pandang kita. Kita tidak sedang 'mengetuk pintu' negara lain, kita sedang memenuhi undangan sebagai pemain kunci dunia," kata Sugiat.

Ia menjelaskan bahwa diplomasi yang dijalankan Prabowo Subianto dilakukan secara seimbang kepada negara-negara mitra strategis, baik di kawasan Barat maupun Timur.

"Jika sebelumnya politik luar negeri kita dinilai terlalu pasif, Pak Prabowo mempraktikkannya dengan lebih dinamis. Pak Prabowo mendatangi negara-negara mitra utama secara berimbang, baik Barat maupun Timur, untuk menegaskan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak, tetapi tidak bisa didikte oleh siapa pun. Ini adalah wujud nyata dari kedaulatan bangsa," tambahnya.

Sugiat menepis anggapan bahwa aktivitas diplomasi luar negeri tidak berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.

"Mungkin ada kesan bahwa urusan luar negeri itu jauh dari urusan rakyat kecil. Padahal sebaliknya. Ketika Pak Prabowo berbicara tentang ketahanan pangan, transfer teknologi pertahanan, atau kerja sama energi di luar negeri, tujuannya satu yaitu memastikan pasokan untuk dalam negeri aman, investasi masuk, dan lapangan kerja tercipta," jelasnya.

Menurut Sugiat, Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai pemimpin yang bekerja cepat dan terukur dalam setiap agenda diplomasi yang dijalankan, termasuk kunjungan ke luar negeri.

"Setiap kunjungan selalu terukur dengan agenda yang padat dan konkret, mulai dari kesepakatan strategis hingga pengakuan internasional terhadap posisi Indonesia. Menghadapi dinamika dunia yang bergerak secepat kilat, diplomasi meja makan atau sekadar lewat surat tentu tidak lagi cukup," ujarnya.

Sugiat menegaskan bahwa Gerindra tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai kalangan, termasuk pakar hubungan internasional.

"Sebagai partai yang terbuka, Gerindra melihat kritik dari tokoh seperti Pak Dino sebagai vitamin bagi demokrasi. Kami justru mengajak beliau dan para pakar hubungan internasional lainnya untuk terus memberikan masukan konstruktif. Mari kita kawal bersama agar posisi tawar Indonesia di dunia internasional yang saat ini sedang kuat-kuatnya, bisa memberikan manfaat maksimal bagi seluruh rakyat Indonesia," tutupnya.

Prabowo Subianto, dengan kunjungan luar negeri yang intens, menegaskan peran aktif Indonesia di panggung global, sementara Gerindra menegaskan kesiapan untuk menerima masukan demi kebaikan bersama.

Prabowo Subiantodiplomasi aktifGerindraIndonesiakunjungan luar negeriGlobal Southgeopolitik

Komentar

Memuat komentar...