Gresik Siap Penanggulangan Kekeringan 2026, Air Terbatas

Fajar H. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 100 dibaca
Bisik.id
Gresik Siap Penanggulangan Kekeringan 2026, Air Terbatas

Gambar atau konten salah?

Gresik, sebuah kabupaten di Indonesia, menyiapkan diri untuk menghadapi potensi kekeringan pada tahun 2026. Menurut data, musim kemarau diprediksi akan datang lebih awal, mulai akhir April. Pada fase awal, setidaknya enam kecamatan berpotensi terdampak, dan jumlah tersebut diperkirakan dapat meluas hingga 12 kecamatan saat puncak kemarau pada Juli hingga September.

“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak. Semua harus sudah siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, desa harus tahu kondisinya. Tidak boleh ada yang terlambat,” kata Yani, Jumat (17 April 2026). Yani menegaskan bahwa seluruh jajaran tidak boleh menunggu krisis terjadi sebelum mengambil langkah.

Sebagai langkah awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan skema distribusi air bersih. Sarana yang disiagakan meliputi lima unit truk tangki, puluhan tandon, hingga ratusan jerigen. Meski demikian, Yani mengakui adanya keterbatasan armada untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.

“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa kerja biasa. Harus berbasis data, tepat sasaran, dan cepat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan distribusi air. Pemanfaatan sumber air alternatif serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.

“Kita harus berani keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan,” imbuhnya. Yani juga mendorong kesiapsiagaan hingga tingkat rumah tangga, meminta masyarakat menyiapkan cadangan air secara mandiri.

“Minimal setiap rumah punya jerigen atau tandon. Kita harus membangun kesiapan dari bawah, bukan hanya mengandalkan pemerintah,” katanya. Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gresik Sukardi menyampaikan pihaknya telah memetakan wilayah rawan sebagai dasar intervensi.

“Kami sudah siapkan distribusi air bersih secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Yang menjadi perhatian adalah dukungan operasional, khususnya BBM, karena distribusi ini akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” jelas Sukardi. BPBD juga terus memperkuat koordinasi dengan kecamatan dan desa agar distribusi air tepat sasaran dan tidak terlambat.

Di sisi lain, Pemkab Gresik mulai menggeser pendekatan dari penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, termasuk untuk mendukung sektor pertanian. Dengan prediksi kemarau yang lebih panjang dan meluas, tahun 2026 menjadi ujian kesiapsiagaan bagi daerah. Pemkab Gresik menegaskan tidak ada ruang untuk keterlambatan dalam menghadapi ancaman kekeringan.

Gresik telah menyiapkan rencana mitigasi, menandai pentingnya kesiapsiagaan sejak dini. Tantangan ini menuntut koordinasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat, serta penggunaan data untuk penentuan sasaran distribusi. Kesiapan yang terstruktur dapat meminimalisir dampak kekeringan pada masa depan.

kekeringan 2026GresikBPBDdistribusi air bersihkesiapsiagaansumber air alternatifkolaborasi lintas sektorpengelolaan berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...