Gubernur Berikan Rp25 Juta, Guru Memaafkan Siswa di Purwakarta

Andi B. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Gubernur Berikan Rp25 Juta, Guru Memaafkan Siswa di Purwakarta

Gambar atau konten salah?

Beberapa waktu lalu, siswa di SMAN 1 Purwakarta mengekspresikan ejekan secara terbuka terhadap guru mereka. Perilaku tersebut cepat menyebar di media sosial, sehingga sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Ia merasa terkejut dan menilai tindakan siswa itu tidak pantas.

Setelah mendengar kabar, KDM segera menghubungi guru yang menjadi korban, Atun Syamsiah, yang mengajar Pendidikan Kewarganegaraan. Atun menjelaskan bahwa muridnya memang melakukan kesalahan, namun ia tetap memandang mereka sebagai anak yang baik dan telah memaafkan. KDM bertanya mengapa Atun memilih memaafkan alih-alih memberi hukuman.

Atun menjawab dengan kata-kata yang mengharukan: "Jangan (dihukum), itu kasihan. Generasi masih panjang waktunya dia untuk berubah, berbuat baik. Yang salah nggak selamanya salah, Pak, yang nakal nggak selamanya," kata Atun, dikutip dari postingan Instagram resmi KDM, 23 April 2026. Ia menegaskan bahwa generasi muda masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri.

Setelah itu, KDM bertanya: "Ibu memaafkan nih?" Atun menjawab dengan tegas: "Sangat memaafkan, saksinya Allah, dan saya sangat memaafkan, supaya menjadi anak-anak yang berakhlak,". Ia menegaskan bahwa ia telah memaafkan dan berharap muridnya tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Dalam percakapan tersebut, KDM memberikan hadiah kepada Atun berupa uang tabungan senilai Rp 25 juta. Atun kemudian menyumbangkan uang tersebut ke Yayasan Yatim yang berada di bawah naungannya. KDM juga menambahkan bahwa ia akan menyerahkan hadiah tersebut secara tunai kepada guru dan menambahkan AC baru untuk Yayasan Yatim. Atun mengungkapkan rasa syukur: "Doakan saya,dengan Pak, mudah-mudahan mendapat Ridho Allah dan menjadi hamba Allah yang mulia, karena itu yang saya banggakan dalam hidup," pungkas Atun.

Setelah kasus viral, pihak sekolah langsung menindaklanjuti dengan memberi sanksi skorsing selama 19 hari kepada siswa yang terlibat. Namun, KDM menganggap sanksi tersebut kurang tepat dan menyarankan agar siswa melakukan pembinaan di sekolah. Ia menjelaskan bahwa siswa akan mengikuti program Barak Militer yang dipimpin oleh ketua OSIS di Jawa Barat. Menurutnya, program ini bukan untuk menegur, melainkan untuk mengarahkan mereka pada prestasi: "Nanti mereka akan mengikuti program barak militer kepada para ketua OSIS di Jawa Barat. Bukan yang nakal, tapi yang mengarahkan pada prestasi," tegas KDM.

Peristiwa ini menyoroti bagaimana lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja sama dalam menanggulangi perilaku siswa. Dengan pendekatan memaafkan, dukungan finansial, dan program pembinaan, diharapkan siswa dapat belajar dari kesalahan dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

SMAN 1 PurwakartaGubernur Jawa Barat Dedi MulyadiAtun SyamsiahYayasan YatimBarak Militermemahafkansanksi skorsing

Komentar

Memuat komentar...