Gubernur Usulkan Kerja Bakti untuk Siswa Pengejek Guru

Rini S. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 110 dibaca
Bisik.id
Gubernur Usulkan Kerja Bakti untuk Siswa Pengejek Guru

Gambar atau konten salah?

Video yang beredar di media sosial menampilkan beberapa siswa SMAN 1 Purwakarta yang mengangkat jari tengah dan mengejek seorang guru di ruang kelas. Tindakan ini menimbulkan kemarahan publik karena dianggap sebagai pelanggaran etika dan kurangnya rasa hormat terhadap tenaga pendidik.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi kejadian tersebut dengan serius. “Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa ia telah mendengar laporan lengkap dari dinas pendidikan pada Sabtu (18/4/2026).

Sekolah menanggapi dengan memanggil orang tua siswa yang terlibat. Dalam pertemuan, keluarga mengungkapkan penyesalan dan menangis menyesal atas tindakan anaknya. “Berdasarkan informasi anak tersebut orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah dan orang tuanya nangis merasa menyesal atas tindakan anaknya,” kata Dedi. Sekolah kemudian memutuskan skorsing selama 19 hari dan memberikan bimbingan di rumah.

Namun, gubernur menilai skorsing tidak cukup efektif dalam membentuk karakter. Ia mengusulkan hukuman yang lebih produktif, yaitu kerja bakti di lingkungan sekolah. “Tapi saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari, ini saran mudah-mudahan bisa digunakan. Tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” tegasnya.

Dedi menambahkan bahwa hukuman fisik yang bermanfaat secara sosial, seperti menjaga kebersihan, akan lebih berkesan bagi disiplin siswa. Ia juga menyarankan fleksibilitas durasi hukuman, tergantung perkembangan siswa. “Ini yang saya sarankan, waktunya bisa 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan tergantung perkembangan anak itu sendiri,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tujuan sanksi bukan sekadar menghukum, melainkan membina kembali moral generasi muda. Peran sinergis antara orang tua dan guru menjadi kunci utama agar kejadian serupa tidak terulang. “Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya,” pungkasnya.

Kejadian ini menyoroti pentingnya pendidikan karakter di sekolah. Tindakan siswa yang tidak pantas menimbulkan kecaman publik, sementara reaksi pemerintah menekankan perlunya pendekatan yang mendidik. Perubahan perilaku siswa akan memerlukan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.

SMAN 1 Purwakartajari tengahgurugubernur Jawa Baratskorsingkerja baktipembentukan karakterpendidikan karakter

Komentar

Memuat komentar...