Guinness Rekor: Lukisan Cadas Prasejarah Tertua di Indonesia

Bayu K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Guinness Rekor: Lukisan Cadas Prasejarah Tertua di Indonesia

Gambar atau konten salah?

19 Mei 2026 – Jakarta menjadi pusat perhatian dunia arkeologi karena temuan lukisan cadas prasejarah yang dianggap sebagai narasi cerita tertua di dunia. Pengakuan ini datang dari Guinness World Records dan membuka peluang bagi pengembangan arkeowisata di Indonesia.

Di acara BRIN Goes to Industry 4 yang diselenggarakan di Kantor BRIN, Jakarta, peneliti Adhi Agus Octaviana dari Pusat Riset Arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa Indonesia memiliki ratusan situs gambar cadas tersebar di kawasan karst. Situs-situs ini menyimpan nilai sejarah penting bagi manusia modern awal.

“Sampai terakhir bulan Januari kemarin kita sudah publikasikan umur pertanggalan minimum gambar cadas prasejarah di Indonesia tertua dari cangkang di Leang Metanduno sekitar minimum 67.800 tahun yang lalu. Ini bukti manusia modern awal yang datang ke Nusantara,” ujar Adhi. Pernyataan ini didukung oleh hasil riset bersama lembaga internasional.

Selain itu, Indonesia juga memiliki bukti adegan cerita tertua di dunia yang ditemukan melalui lukisan cadas di Sulawesi Selatan. Temuan ini dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Nature. “Selain punya tadi pagi kita menerima oldest non-figurative art kita juga punya oldest naratif scene, jadi ini bukti storytelling tertua di dunia sekitar 51.000 tahun yang lalu maupun yang 48.000 tahun oldest hunting scene tertua di dunia. Dan alhamdulillah Guinness World Record sudah mengakuinya juga,” ungkapnya dengan bangga.

Gua Metanduno atau Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu situs yang kini mendapat sorotan. Adhi menekankan keunggulan situs ini karena lebih mudah dijangkau wisatawan dibandingkan situs gambar cadas lain yang umumnya berada di lokasi terpencil. “Situs-situs gambar cadas sebagian besar berada di tempat yang sulit diakses. Mungkin Metanduno saja ini yang gampang diakses, mobil bisa sampai ke depan situs,” ujarnya.

Gua Metanduno sudah dikenal sebagai destinasi wisata sejak awal 2000‑an. Pengunjung datang untuk melihat lukisan cadas berwarna cokelat di dinding gua. Minat wisatawan terhadap arkeowisata juga meningkat di Taman Arkeologi Leang‑Leang, Sulawesi Selatan. Setelah publikasi usia lukisan prasejarah, jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara meningkat, terutama saat akhir pekan.

Namun di balik tingginya minat wisatawan, BRIN mengingatkan bahwa situs gambar cadas sangat rentan mengalami kerusakan. “Tapi situs gambar cadas itu rentan terhadap kunjungan wisata. Jadi ada ancamannya ya tidak hanya dari global warming, kita sudah publikasikan bahwa banyak pengelupasan kulit dinding untuk gambar cadas, tapi ada juga rentan terhadap pengunjung,” tegas Adhi. Ia menjelaskan bahwa panas tubuh dan uap dari pengunjung dapat mempercepat pengelupasan dinding gua yang menjadi media lukisan prasejarah. Karena itu, pembatasan pengunjung dan pengelolaan kawasan dinilai penting untuk menjaga kelestarian situs.

Sebagai upaya menjaga keseimbangan antara wisata dan konservasi, BRIN kini memanfaatkan teknologi digital melalui platform Google Arts & Culture. Melalui platform tersebut, masyarakat dapat melihat ilustrasi hingga mengikuti tur virtual ke puluhan situs gambar cadas Indonesia secara gratis. Langkah ini diharapkan membuat situs prasejarah Indonesia tetap bisa dinikmati publik luas tanpa mengganggu kelestarian aslinya.

Temuan lukisan cadas ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya dikenal lewat wisata alam dan pantai, tetapi juga sebagai pusat seni prasejarah yang memegang peranan penting dalam sejarah manusia. Keberadaan situs seperti Gua Metanduno dan Leang‑Leang menunjukkan potensi besar untuk pengembangan arkeowisata yang berkelanjutan. Namun, perlindungan terhadap situs-situs berharga ini tetap menjadi prioritas utama, karena kerusakan yang disebabkan oleh kunjungan wisata dapat mengancam warisan budaya yang sangat berharga bagi bangsa.

lukisan cadasArkeowisataGua MetandunoGuinness World RecordBRINLeang MetandunoGoogle Arts & Culture

Komentar

Memuat komentar...