Guru Seni Jual Sketsa Murah, Dukung Anak Siswa Sidoarjo
Gambar atau konten salah?
Di tengah deretan pedagang kaki lima dan kendaraan yang terparkir di sekitar sekolah, seorang pria lanjut usia tampak duduk lesehan menjajakan lembaran gambar sketsa.
Ia adalah Sudirman (66), guru Seni Rupa non-ASN di salah satu SDN Sidoarjo yang menjual hasil karyanya Rp 1.000 untuk tiga lembar gambar.
Pria yang akrab disapa Pak Dirman itu mengaku sengaja menjual gambar dengan harga sangat murah agar bisa dijangkau siswa-siswi dari kalangan menengah ke bawah.
"Tujuannya untuk meminimalisir siswa-siswi ini bermain handphone, agar mereka menyempatkan mewarnai sketsa-sketsa yang telah mereka beli," kata Sudirman kepada media pada hari Sabtu, 23 Mei 2016, saat berjualan di depan SD Negeri Pagerwojo Sidoarjo.
"Selain itu supaya anak-anak yang punya bakat menggambar atau mewarnai tetap bisa belajar. Banyak anak yang sebenarnya ingin melukis, tapi tidak punya fasilitas atau alat seperti anak-anak dari keluarga mampu," tambah Sudirman.
Pak Dirman menceritakan, semua gambar dibuat sendiri menggunakan keterampilan seni yang dimilikinya. Setelah itu, gambar diperbanyak menggunakan jasa fotokopi agar bisa dijual murah kepada anak-anak sekolah.
Menurutnya, harga Rp 1.000 untuk tiga lembar masih memberinya sedikit keuntungan, sekaligus tetap ramah di kantong siswa yang rata-rata hanya memiliki uang saku Rp 2.000 hingga Rp 4.000 per hari.
"Anak-anak senang karena bisa memilih gambar yang mereka suka. Ada Digimon, Hello Kitty, Kura-kura Ninja, dan karakter lain. Kadang juga sesuai permintaan anak-anak," ucap Pak Dirman.
Bagi Pak Dirman, kegiatan sederhana tersebut bukan sekadar berjualan. Ia ingin anak-anak tetap percaya diri dan merasa setara dengan teman-temannya saat belajar mewarnai di sekolah.
"Kalau punya gambar sendiri mereka jadi semangat belajar dan tidak minder," ujarnya.
Setiap hari, Pak Dirman berjualan di sekitar SD Pagerwojo pada pagi hari. Khusus hari Sabtu, ia berjualan sejak pagi hingga siang di lokasi yang sama.
Namun, karena berjualan secara lesehan di bawah, keberadaannya sering tidak terlihat.
"Saya jualan di bawah lesehan, jadi kadang tertutup pedagang lain atau kendaraan parkir," tuturnya sambil tersenyum.
Meski sederhana, usaha Pak Dirman mendapat perhatian dan dukungan masyarakat.
"Saya berterima kasih karena masyarakat Sidoarjo peduli dan mendukung," kata Pak Dirman.
Di usianya yang tidak lagi muda, Pak Dirman juga mengaku belum bisa menggunakan telepon genggam modern. Untuk berbagai urusan, ia selalu dibantu istri dan anak-anaknya.
Sebagai seniman sederhana, Pak Dirman berpesan agar para pelaku seni tidak mudah menyerah dengan keadaan.
"Jangan putus asa untuk terus berkarya. Seni itu tidak ada batasannya," pungkasnya.
Sementara itu, Navia, siswi kelas V di SD Negeri Pagerwojo, mengaku ia sering membeli sketsa yang dibuat Pak Dirman.
"Sering membeli sketsa ini kebetulan saya suka mewarnai, agar lukisan itu bagus tinggal mewarnai saja, ini sangat membantu para siswa-siswi," ucap Navia.
Kegiatan Pak Dirman menjadi contoh sederhana bagaimana seorang guru dapat menggunakan kreativitasnya untuk mendukung pendidikan di komunitasnya.
Ia menekankan pentingnya kreativitas bagi anak-anak, sekaligus mengajak mereka tetap bersyukur atas apa yang dimiliki.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa dengan harga terjangkau dan dukungan masyarakat, seorang guru dapat memfasilitasi proses belajar mewarnai, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri di antara siswa-siswi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
