Haji Mabrur: Cara Menjadi Haji Yang Diterima Allah

Sinta R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Haji Mabrur: Cara Menjadi Haji Yang Diterima Allah

Gambar atau konten salah?

Haji mabrur adalah predikat yang sangat diidamkan oleh setiap muslim yang menunaikan ibadah haji. Predikat ini tidak sekadar gelar, melainkan tanda bahwa ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT dan dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan seorang haji.

Menurut Buku Pintar & Praktis Haji & Umrah Lengkap Sesuai Sunnah karya Ratih Puspitawati, istilah al mabrur berasal dari kata al birru yang berarti kebaikan atau kebajikan. Dengan demikian, al hajjul mabrur berarti haji yang dipenuhi nilai kebaikan. Secara istilah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, dilakukan sesuai tuntunan syariat, dan memberikan dampak positif bagi diri sendiri serta orang lain.

Predikat ini harus diupayakan sejak sebelum, saat, hingga setelah pelaksanaan haji. Ia tidak datang secara instan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, haji mabrur termasuk amal utama setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR Bukhari)

Berbagai ciri-ciri haji mabrur dapat dilihat dari perubahan perilaku dan sikap seorang haji. Pertama, menjauhi perbuatan maksiat. Hadits riwayat Muslim menjelaskan bahwa orang yang berhaji dengan benar dan menjauhi rafats (perbuatan keji) serta fusuq (maksiat), akan kembali seperti bayi yang baru lahir‑bersih dari dosa. Artinya, haji mabrur ditandai dengan kehidupan yang lebih baik dan tidak mengulangi dosa di masa lalu.

Kedua, bertutur kata santun. Perubahan lain yang terlihat adalah cara berbicara. Orang dengan haji mabrur akan menjaga lisannya dari perkataan kasar, celaan, dan ucapan kotor. Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela atau berkata kasar. Bahkan dalam riwayat lain disebutkan, ciri haji mabrur adalah santun dalam berkata:

“Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata‑kata kasar dan juga kotor.” (HR At‑Tirmidzi)

Dalam riwayat lain dikatakan:

“Dari Jabir RA berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” (HR al‑Hakim dan al‑Baihaqi: hadits ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh imam al‑Bukhari dan Muslim)

Ketiga, menebarkan kedamaian. Salah satu tanda utama haji mabrur adalah mampu menebarkan kedamaian di lingkungan sekitar. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa haji mabrur ditandai dengan memberi makan dan menyebarkan salam. Artinya, seseorang yang hajinya mabrur akan menjadi pribadi yang membawa ketenangan dan kebaikan bagi orang lain.

Keempat, memiliki kepedulian sosial. Haji mabrur juga tercermin dari meningkatnya kepedulian terhadap sesama. Hal ini ditunjukkan dengan kebiasaan membantu orang lain, termasuk memberi makan kepada yang membutuhkan. Nilai sosial ini menjadi bukti bahwa ibadah haji tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial.

Untuk meraih predikat haji mabrur, beberapa langkah penting perlu diperhatikan. Pertama, meluruskan niat hanya karena Allah SWT. Niat yang tulus menjadi dasar utama. Kedua, mempelajari manasik haji sesuai sunnah agar setiap langkah dilakukan dengan benar. Ketiga, menjalankan rukun, wajib, dan sunnah haji dengan khusyuk sehingga ibadah menjadi penuh kesungguhan. Keempat, memperbanyak zikir dan talbiyah sebagai bentuk pengabdian. Kelima, menjauhi larangan seperti rafats, fusuq, dan jidal agar tidak menimbulkan dosa. Keenam, menggunakan harta yang halal untuk berhaji agar ibadah tidak tercemar oleh unsur dunia.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR Muslim)

Dengan memahami ciri-ciri dan cara meraih haji mabrur, setiap jemaah diharapkan tidak hanya fokus pada pelaksanaan haji, tetapi juga menjaga kualitas diri agar meraih predikat haji mabrur yang balasannya adalah surga. Wallahu a'lam.

Secara keseluruhan, haji mabrur menuntut kesungguhan, keteladanan, dan perubahan positif dalam perilaku. Ia menandai transformasi spiritual dan sosial, menjadikan haji lebih dari sekadar perjalanan ibadah, melainkan panggilan hidup yang mendalam bagi setiap muslim.

haji mabrurpredikatsurgakebaikantuntunan syariatnisbahzikirkepedulian sosial

Komentar

Memuat komentar...