Haji Mardud: Kenapa Ibadah Tidak Diterima & Cara Hindari
Gambar atau konten salah?
Setiap muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial, diwajibkan melaksanakan rukun Islam kelima, yaitu haji. Ibadah ini menjadi momen penting bagi yang melakukannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, tidak semua pelaksanaan haji berakhir dengan predikat mabrur. Ada pula yang disebut mardud, yakni haji yang tidak diterima oleh Allah karena adanya kesalahan dalam pelaksanaannya.
Menurut Mohammad Mufid dalam buku Dakwah Bil Qolam, ibadah haji dapat menjadi tidak mabrur atau mardud apabila saat melaksanakan rukun Islam kelima tercampur dengan hal-hal yang diharamkan atau disertai perbuatan maksiat.
Hikmah ini juga didukung oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Haj, yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman. Rasulullah SAW, dalam hadits riwayat Abu Hurairah, menggambarkan kondisi seseorang yang berhaji dengan cara yang tidak benar:
"Barang siapa datang ke Baitullah karena pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Apabila ia bersiap berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, kemudian kendaraannya berjalan dan ia berkata, 'Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),' maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk."
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah haji tidak hanya soal ritual. Ia juga mencakup kehalalan niat, bekal, dan perilaku selama perjalanan. Kegagalan dalam salah satu aspek tersebut dapat menyebabkan haji tidak diterima.
Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan jemaah sehingga haji tidak mencapai derajat mabrur, yang dikutip dari buku Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli:
- Niat yang tidak lurus: Berhaji demi gengsi, pencitraan, ingin dipuji, atau mengejar status sosial.
- Tidak mengikuti tuntunan syariat: Enggan mempelajari manasik haji atau tidak mengikuti bimbingan yang benar.
- Masih melakukan maksiat: Kebiasaan buruk tetap dilakukan, bahkan saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Hadits lain juga menegaskan ciri haji mabrur. Dalam musnad Imam Ahmad, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?” dan Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.”
Haji mabrur juga ditandai dengan sikap santun dalam berkata. Dari Jabir RA, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda: “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi: Hadits ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan Muslim)
At-Tirmidzi menambahkan, “Bukanlah seorang mukmin, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga kotor.” (HR At-Tirmidzi)
Berikut tanda-tanda seseorang hajinya belum mabrur:
- Tidak menjaga lidah: Seseorang yang hajinya belum mabrur cenderung tidak mampu menjaga ucapannya, masih berkata kasar, atau menyakiti orang lain. Padahal, haji yang diterima akan membentuk pribadi yang lebih santun.
- Minim kepedulian sosial: Haji mabrur seharusnya melahirkan pribadi yang peduli terhadap sesama, seperti gemar membantu dan berbagi. Jika sikap ini tidak muncul, maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ibadah hajinya belum optimal.
- Menebarkan kebencian: Alih‑alih membawa kedamaian, ia justru memicu konflik, menyebarkan kebencian, atau memperkeruh hubungan sosial. Ini bertentangan dengan nilai haji yang mengajarkan persatuan dan kasih sayang.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim agar tidak hanya fokus pada pelaksanaan ritual haji, tetapi juga menjaga hati dan perilaku agar terhindar dari haji mardud. Dengan niat yang lurus, mengikuti tuntunan syariat, dan menghindari maksiat, haji dapat mencapai mabrur, membawa manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
Kesimpulannya, haji yang diterima oleh Allah memerlukan keselarasan antara niat, tindakan, dan perilaku. Ketidaksesuaian pada salah satu aspek dapat mengakibatkan haji menjadi mardud, sementara keselarasan tersebut akan menghasilkan haji mabrur yang membawa kedamaian dan kebaikan bagi pelakunya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
