Hantavirus Andes di MV Hondius Berbeda dari Kasus Indonesia

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
Hantavirus Andes di MV Hondius Berbeda dari Kasus Indonesia

Gambar atau konten salah?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, menegaskan bahwa hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius berbeda dengan kasus yang pernah dilaporkan di Indonesia. Meski keduanya berasal dari virus Hanta, perbedaan utama terletak pada strain, gejala, dan tingkat keparahan.

Andi Saguni menjelaskan bahwa kasus di MV Hondius merupakan tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) dengan strain Andes Virus yang biasa ditemukan di benua Amerika. Ia berkata, “Tipe HPS ini belum dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Yang terjadi di Indonesia adalah tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome), sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius,” dalam konferensi pers pada Senin 11 Mei 2026.

Gejala klinis menjadi perbedaan paling mencolok. Pada HFRS, selain demam dan nyeri badan, gejala paling khas adalah ikterik atau jondis. Sedangkan pada HPS yang ditemukan di MV Hondius, gejala utama adalah gangguan pernapasan berat (severe acute respiratory illness) dan tidak ada tanda tubuh menguning.

Perbedaan juga terlihat pada tikus pembawanya. Di Indonesia, virus disebarkan oleh Rattus norvegicus atau tikus got dengan strain Seoul Virus. Di Amerika, Andes Virus disebarkan oleh tikus liar jenis Oligoryzomys longicaudatus.

Di sisi lain, dunia internasional menyoroti klaster Andes Virus di MV Hondius yang menampung 149 orang. Hingga 10 Mei 2026, dilaporkan terdapat 6 kasus konfirmasi dan 3 kematian. Case Fatality Rate mencapai 37,5 persen, menandakan tipe HPS ini jauh lebih fatal dibandingkan tipe yang ada di Indonesia.

Walaupun risiko penyebaran global dinilai rendah oleh WHO, Kemenkes tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari paparan ekskresi (kotoran dan urine) tikus, faktor risiko utama penularan.

Kasus ini menegaskan pentingnya pemantauan virus zoonotik di wilayah Indonesia dan di luar negeri, serta perlunya kesadaran publik terhadap potensi penularan melalui hewan pengerat.

hantavirusMV HondiusHPSHFRSAndes VirusRattus norvegicuscase fatality rate

Komentar

Memuat komentar...