Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Tiga Meninggal

Vera T. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Tiga Meninggal

Gambar atau konten salah?

Hantavirus, virus yang jarang terjadi, menjadi sorotan global setelah laporan tentang wabah di atas kapal pesiar MV Hondius muncul. Tiga penumpang meninggal akibat infeksi ini, menambah keprihatinan dunia tentang potensi penyebaran virus ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini sedang memeriksa kemungkinan penularan antar manusia di kapal yang menampung 149 penumpang dari 23 negara. Dr Maria Van Kerkhove, pejabat teknis WHO, menyatakan bahwa dugaan ini cukup mengejutkan karena Hantavirus biasanya menular dari hewan pengerat ke manusia, bukan antar manusia.

Hantavirus termasuk dalam genus Orthohantavirus dan biasanya dibawa oleh tikus. Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang terpapar:

  • urine tikus yang terinfeksi
  • kotoran tikus
  • air liur hewan pengerat
  • partikel udara yang terkontaminasi

Infeksi paling sering terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel virus, terutama di ruang tertutup yang tercemar.

Virus ini dapat menimbulkan dua sindrom utama, tergantung wilayah dan karakteristik gejalanya. Kedua sindrom ini serius, tetapi memengaruhi organ tubuh berbeda.

1. HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome)
Jenis ini lebih sering ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Penyakit ini menyerang pembuluh darah dan ginjal, dapat menyebabkan gangguan serius jika tidak segera ditangani. Gejalanya meliputi:

  • demam
  • sakit kepala
  • nyeri punggung
  • mual
  • mata kemerahan
  • ruam

Dalam kasus berat, HFRS dapat berkembang menjadi gangguan ginjal akut dan perdarahan akibat kerusakan pembuluh darah. Beberapa pasien juga mengalami komplikasi neurologis.

2. HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome)
Kasus HPS dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi. Gejalanya biasanya dimulai seperti flu biasa, tetapi bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan berat dalam waktu singkat. Gejalanya meliputi:

  • demam
  • nyeri otot
  • batuk
  • sesak napas
  • nyeri perut
  • muntah dan diare

HPS menyerang sistem pernapasan secara cepat dan progresif. Pada kasus berat, dapat terjadi penumpukan cairan di paru-paru, gagal napas, dan syok.

WHO dan CDC menegaskan bahwa sebagian besar Hantavirus tidak mudah menular dari manusia ke manusia. Penularan utama tetap berasal dari paparan hewan pengerat yang terinfeksi. Namun, pada beberapa kasus, seperti virus Andes di Amerika Selatan, penularan antar manusia pernah tercatat meski sangat jarang. Dugaan penularan di kapal pesiar MV Hondius menjadi fokus investigasi penting, tetapi masih membutuhkan konfirmasi ilmiah lebih lanjut.

Hantavirus tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam nyawa. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman pernah mengungkapkan bahwa angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) adalah 5‑15% tergantung strain virusnya. Misalnya, HFRS dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah, pendarahan internal, dan gagal ginjal akut. Sedangkan HPS menyebabkan paru‑paru terisi cairan, sehingga tubuh kekurangan oksigen secara drastis. Karena gejalanya sering menyerupai penyakit umum, keterlambatan diagnosis menjadi faktor krusial yang meningkatkan risiko kematian.

Gejala awal infeksi Hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, sehingga sulit dikenali pada tahap awal. Beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai meliputi:

  • demam
  • kelelahan ekstrem
  • nyeri otot
  • sakit kepala
  • mual
  • muntah

Jika infeksi terus berkembang, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat dan menyebabkan gangguan pernapasan serius. Pada tahap ini, penanganan medis segera sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang dapat mengancam nyawa.

Pencegahan utama berfokus pada upaya mengurangi dan menghindari paparan terhadap hewan pengerat yang berpotensi membawa virus. Langkah-langkah pencegahan yang disarankan antara lain:

  • menjaga kebersihan lingkungan
  • menutup akses tikus ke rumah atau bangunan
  • menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berisiko
  • menghindari menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering
  • membersihkan area terkontaminasi dengan disinfektan

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin Hantavirus yang digunakan secara luas. Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah perlindungan paling efektif untuk mengurangi risiko infeksi.

Di Indonesia, reservoir utama virus ini berasal dari tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi). Meskipun kasusnya tergolong jarang, potensi paparan tetap ada, terutama di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi buruk. Kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan menjadi langkah paling efektif untuk mencegahnya.

Kasus yang sempat terdeteksi pada pertengahan 2025 dilaporkan telah sembuh. Meskipun jumlahnya kecil, kejadian tersebut menunjukkan bahwa Hantavirus dapat muncul di wilayah ini. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari kontak langsung dengan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Secara keseluruhan, Hantavirus tetap menjadi penyakit yang perlu dipahami, terutama karena potensi komplikasi serius dan kematian yang dapat terjadi. Penularan antar manusia masih dianggap jarang, namun kasus di kapal pesiar MV Hondius menegaskan pentingnya pengawasan dan investigasi lebih lanjut. Masyarakat diharapkan tetap waspada, menjaga kebersihan, dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan.

HantavirusMV HondiusWHOPenularan antar manusiaTikusGejalaPenyakitPencegahan

Komentar

Memuat komentar...